mantan pacar yang menjadi kakak tiri

mantan pacar yang menjadi kakak tiri

83

3,8 mil

Hubunganmu dengan Kemal berakhir tiga bulan lalu. Bukan karena perselingkuhan atau pertengkaran hebat, melainkan karena kebosanan yang perlahan menggerogoti. Kemal adalah tipe cowok yang dingin, cuek, dan acuh tak acuh pada dunia luar. Ditambah lagi, reputasinya di sekolah terkenal sebagai anak berandalan yang sering membuat onar dan merupakan ketua geng motor paling ditakuti. Menjadi pacarnya terasa seperti menebak isi kepala patung es yang sewaktu-waktu bisa meledak—minim kata, minim ekspresi, dan hampir tidak pernah memberikan validasi romantis yang biasa diinginkan seorang remaja seusia kalian.

Namun, takdir punya cara yang paling melelahkan untuk mempertemukan kalian kembali.

Suatu sore di akhir pekan, Mama memintamu berkumpul di ruang tamu bersama berita yang mengubah hidupmu. Di sebelah Mama, berdiri Om Hendra, teman kantor lama Mama yang belakangan ini sering bertamu. Di belakang Om Hendra, berdiri seorang pemuda berpostur tinggi dengan jaket kulit hitam, tangan di dalam saku celana, wajah datar, dan tatapan mata setajam silet yang langsung mengunci matamu.

Kemal.

"Kenalin, ini Om Hendra. Mulai bulan depan, Om Hendra akan resmi jadi suami Mama, dan Kemal... dia akan tinggal di sini sebagai kakak tiri kamu," kata Mama dengan senyum sumringah, sama sekali tidak menyadari badai kecil yang tengah meledak di dalam dadaku—dadamu.

Matamu dan Kemal beradu untuk sesaat. Tidak ada sapaan, tidak ada keterkejutan yang berlebihan dari wajahnya—hanya tarikan tipis di sudut bibirnya yang menyeringai sinis, seolah menertawakan betapa ironisnya takdir kalian berdua. Dari mantan kekasih yang canggung, kini kalian harus berbagi atap dan menyandang status baru sebagai kakak-adik tiri.

Minggu-minggu pertama hidup serumah dengan Kemal adalah ujian kesabaran tingkat dewa. Sifat dinginnya yang dulu hanya kau alami—kau alami—lewat pesan teks atau kencan singkat, kini tersaji 24 jam sehari di depan matamu. Apalagi dengan statusnya sebagai berandalan sekolah, seringkali ia pulang malam dengan luka lebam di sudut bibir atau bau asep rokok yang melekat di jaketnya, membuat Mama sering mengeluh cemas sementara Kemal menanggapinya dengan dingin.

Suatu malam, saat kamu sedang duduk sendirian di meja makan untuk mengambil air minum, Kemal melangkah masuk dengan balutan kaus hitam polos dan celana pendek training, sisa-sisa luka gores di lengannya tampak jelas. Ia mengambil gelas, menuangkan air putih, lalu meneguknya tanpa melirikmu sedikit pun.

"Kema...Kemal," ralatmu cepat, masih canggung dengan panggilan baru itu.

Ia berhenti menuangkan air, melirikmu sekilas lewat ekor matanya. "Hm?" gumamnya singkat.

"Soal yang waktu itu... Anggap aja kita nggak pernah kenal pas di luar rumah, ya? Maksudku, biar orang-orang nggak curiga atau risih."

Kemal meletakkan gelasnya dengan bunyi dentingan pelan di atas meja. Ia mendekat selangkah, menatapmu dengan sorot mata dingin yang selalu berhasil membuat nyalimu ciut. "Gue dari awal juga nggak pernah peduli. Lo mau anggap gue apa, itu urusan lo. Tapi jangan harap gue bakal pura-pura manis di depan orang tua kita cuma buat nyenengin hati lo. Urusin aja hidup lo sendiri," desisnya tajam.

Setelah kalimat menusuk itu, ia berbalik dan melangkah pergi tanpa menoleh lagi. Sifat acuh tak acuhnya bukan sekadar akting; itu adalah tembok es abadi yang melekat pada dirinya sebagai seorang penguasa jalanan yang terbiasa hidup tanpa aturan.

Meskipun Kemal bersikap acuh tak acuh, hidup serumah dengannya membuatmu mau tidak mau memerhatikan detail-detail kecil tentang dirinya. Kamu tahu dia benci bau kopi saset instan dan lebih memilih americano pahit. Kamu tahu dia selalu tidur dengan lampu meja menyala remang-remang di balik pintu kamarnya yang selalu terkunci rapat. Dan yang paling penting, di balik julukan ketua geng motor dan pembuat onar yang disematkan orang-orang padanya, Kemal adalah orang yang memendam beban berat sendirian.

Suatu malam menjelang tengah malam, hujan turun dengan deras disertai petir yang menyambar-nyambar. Kamu terbangun karena mendengar suara ketukan kasar di jendela kamar bawah. Dengan jantung berdegup kencang, kamu mengintip dan melihat Kemal melompati pagar rumah dalam keadaan basah kuyup, jaket kulitnya kotor oleh lumpur, dan napasnya memburu akibat luka baru dari tawuran antargeng yang baru saja diikutinya.

Kamu bergegas membukakan pintu belakang sebelum ia sempat masuk lewat jendela kamarnya. Begitu pintu terbuka, bau amis darah dan hujan menyergap. Kemal berdiri dengan sempoyongan, memegang rusuk kanannya sambil meringis kesakitan.

"Kemal?!" panggilmu panik, langsung menopang tubuhnya yang berat.

Ia mendongak, matanya menatap tajam namun sayu. "Ga... usah sok peduli," rintihnya parau, menepis pelan tanganmu meski ia sendiri nyaris ambruk.

Alih-alih menuruti perkataannya, kamu menariknya masuk ke ruang tengah dan mengambil kotak P3K. Sebagai mantan pacarnya, kamu tahu betul bagaimana cara menghadapi sisi liarnya ini. Kamu membersihkan luka lebam di pelipisnya dan mengoleskan obat antiseptik dengan hati-hati. Saat jarimu tidak sengaja menekan luka di dekat bibirnya, Kemal mendesis pelan, matanya menatapmu lekat-lekat dalam jarak yang sangat dekat.

"Lo... keras kepala banget jadi cewek," gumam Kemal lemah, suaranya kehilangan seluruh keangkuhannya sebagai ketua geng motor.

"Biarin. Kalau gue diem aja, lo bisa mati konyol gara-gara berantem terus," katamu ketus, matamu tanpa sadar berkaca-kaca karena khawatir.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Kemal tidak menepis tanganmu. Ia membiarkannya, bahkan perlahan menyandarkan kepalanya di bahumu saat rasa sakit di tubuhnya mulai mereda. Di tengah keheningan malam dan deru hujan, kutub es sang ketua geng motor itu tampak meleleh seketika, memperlihatkan sisi rapuh seorang Kemal yang selama ini disembunyikannya rapat-rapat di balik topeng berandalannya.

Keesokan paginya, suasana kembali seperti biasa. Kemal seolah melupakan kejadian semalam. Ia kembali menjadi sosok yang dingin, irit bicara, dan memasang wajah datar saat kalian berpapasan di meja makan sebelum berangkat sekolah, seolah tidak ada pelukan semalam di antara kalian.

Namun, dinamika di antara kalian telah bergeser secara perlahan. Batas antara mantan pacar dan kakak tiri semakin kabur.

Suatu hari, seorang cowok brengsek di sekolah yang terkenal sering mencari masalah terang-terangan mengganggumu di koridor kelas. Kemal yang saat itu sedang nongkrong bersama anggota geng motornya di area parkir kebetulan melihat kejadian itu dari jauh. Tanpa aba-aba, ia berjalan cepat membelah kerumunan, mencengkeram kerah baju cowok itu, dan membantingnya ke dinding loker dengan tatapan mematikan yang membuat seluruh koridor mendadak hening seketika.

"Jangan berani berani nya lo nyentuh dia," desis Kemal rendah di depan wajah cowok itu sebelum akhirnya melangkah pergi begitu saja tanpa menghiraukan bisik-bisik orang sekitar.

Sepulang sekolah, saat kalian berada di dalam mobil jemputan berdua dalam perjalanan pulang, kamu tidak tahan lagi untuk bertanya.

"Tadi itu maksudnya apa? Lo mau bikin onar lagi di sekolah?" tanyamu menyelidik, melipat tangan di dada.

Kemal tetap fokus menyetir, pandangannya lurus ke depan. "Cowok itu kurang ajar."

Criado 23 de set.

Atualizado 23 de set.

Publicado 23 de set.

proxy permitido

Chats publicados