panglima tempur

panglima tempur

171

5,3 mil

"Jabatannya di geng motor itu... cukup serem. Panglima tempur."

Nada Nadin terdengar serius. Pandangan kalian tertuju pada satu cowok di tengah gerombolan murid yang baru saja memarkir motor mereka sembarangan di depan gerbang sekolah.

Kevano. Panglima tempur VAMPRIDE.

Kamu berdecak pelan. "Itu kata orang." "Buat gue, dia cuma cowok sok ganteng yang hobi parkir motor sembarangan di depan sekolah." Nada suaramu santai, sedikit

tapi jelas menyindir. Kalimat itu masih menggantung ketika kamu merasa ada yang memperhatikan.

Kamu menoleh lagi. Kevano masih duduk di atas motornya, pandangannya tertuju lurus ke arahmu.

Seolah sedang memastikan sesuatu.

Kayla terkekeh centil sambil menatap ke arah segerombolan murid itu.

Kayla: "Tapi... mereka emang seganteng itu, tau." "Apalagi Kak Evan, ketua pentolan Vampride!" lanjutnya berlebihan, lalu melambaikan tangan dengan antusias. "Halo, Kak Evan!"

Evan membalas dengan anggukan tipis dan senyum singkat. Seketika suasana di sekitar kalian ikut riuh. Kayla bersorak paling keras.

Tapi kamu tidak.

Tatapanmu masih tertahan pada satu pasang mata yang sejak tadi tidak ikut bereaksi. Tetap diam, tetap lurus menatap ke arahmu. Kevano, perlahan turun dari motornya.

Kamu langsung berpaling. "Gue masuk kelas duluan."

"Loh?! Bel masih lama, woy!" seru Janne.

Kamu tidak menanggapi. Langkahmu dipercepat saat memasuki area sekolah. Beberapa detik kemudian, langkah lain menyusul. Tidak tergesa, tapi jelas mengejar.

"Woy."

Kamu tetap berjalan, tak peduli. Sampai Kevano berhasil menyusul dan meraih pergelangan tanganmu. Kamu refleks menoleh dan langsung menepisnya.

"Ngapain sih ngejar-ngejar gue? Naksir?" tanyamu.

Kevano terkekeh remeh. "Halu."

Kamu mendelik, lalu hendak melangkah lagi. Namun tangannya menahan tali tasmu, membuatmu terhenti. "HOON, LEPASIN TAS GUE!" kesalmu.

Kevano menghela napas singkat. "Makanya jangan rese."

Kamu berbalik, menepis lengannya, lalu melipat tangan di dada.

"Ada apalagi sih, PANGLIMA TEMPUR?" nada suaramu mengejek, menantang. Kevano menatapmu tajam. Tangannya masuk ke tas, lalu mengeluarkan sebuah buku. "Kerjain PR gue," katanya datar. "Gara-gara lo, gue dihukum di lapangan sama Bu Marni kemarin." Buku itu disodorkan ke arahmu. Tegas. Penuh perintah.

Kamu tersenyum sebentar, lalu ekspresimu kembali dingin. "Nggak mau." Buku itu kamu dorong kembali ke dadanya.

Kevano melangkah mendekat satu langkah. Tatapannya menyapu dari atas ke bawah.

"Lo anak baru kemarin sore paling rese yang gue kenal. Lo tau nggak, siapa gue?"

Kamu mendongak, santai. "Tau. Tapi lo nggak berhak ngatur gue. Gue, bukan babu lo." Tanpa menunggu respons, kamu berbalik dan melangkah pergi.

"WOY RESE!" seru Kevano.

#SAAT SIANG HARINYA#

Kantin siang itu lebih ramai dari biasanya. Suara sendok beradu, tawa berlapis-lapis, dan obrolan yang saling tindih memenuhi udara. Kamu duduk di bangku panjang bersama Nadin, Kayla, dan Janne. Nasi di piringmu belum banyak tersentuh. Mulutmu justru lebih sibuk. "Gue heran deh," ucapmu santai sambil menyeruput es teh. "Orang-orang tuh kenapa sih pada takut sama anak geng motor?"

Teman-temanmu terkikik pelan.

"Padahal sama-sama makan nasi. Tapi gila hormatnya setengah mati," lanjutmu tanpa beban. "Apalagi si panglima tempur itu."

Kamu menyuap nasi, lalu melirik malas. "Mukanya jutek mulu, kayak dunia punya utang sama dia."

Tawa kecil pecah di meja kalian. Lalu... mendadak padam.

Bukan karena apa-apa, melainkan karena seseorang berdiri tepat di belakangmu. Teman-temanmu membeku. Pandangan mereka tertuju ke belakangmu.

"Kenapa? Kok pada diem?" tanyamu heran. Belum sempat kamu menoleh, sebuah lengan melingkar santai di bahumu. Beratnya nyata, tapi tidak menekan. Seolah hanya penanda keberadaannya.

"Kayaknya ada yang ngomongin gue, nih." Suaranya renyah memecah keheningan di meja kalian. Meja kalian mendadak hening total. Teman-temanmu mendadak sibuk dengan piring masing-masing.

Kevano duduk di sampingmu. Kamu membeku sedetik, tidak bergeser sedikitpun. Mulutmu masih sibuk mengunyah makanan, seolah tak peduli dengan kehadiran Kevano.

Ia mendekat, berbisik. “Lo nggak usah kebanyakan bacot soal gue."

Kamu menelan makanan, lalu menjawab tanpa menoleh. “Kalau kuping lo sensitif, itu urusan lo.”

Kevano terkekeh kecil. Bukan geli, lebih seperti heran. “Gokil,” gumamnya. “Biasanya orang udah gemeter duluan gue giniin.”

Kamu terkekeh remeh, sambil menghabiskan minumanmu. Lalu menoleh, menatapnya datar. “Minggir.” Suaramu datar. Tegas.

Tapi Kevano tak bergeming. Tatapannya lurus ke arahmu, lalu terkekeh remeh. “Coba aja kalau bisa.”

Beberapa detik hening menggantung. Kamu bisa merasakan tatapan murid lain terasa menusuk dari segala arah.

Kamu berdecak, menepis rangkulannya, lalu berdiri. “Minggir. Gue mau ke kelas.”

Belum sempat Kevano menjawab, suara gaduh para murid mendadak pecah dari arah luar kantin. Beberapa murid refleks berdiri, melihat sebagian murid di luar kantin panik berlari. “WOY ADA YANG RIBUT, ADA YANG RIBUT!” Kantin mendadak ricuh. Dari luar kantin, terdengar suara motor digas keras, lalu teriakan lain menyusul.

“ADA GENG MOTOR! ADA GENG MOTOR!” Kevano berdiri, wajahnya langsung berubah.

Tak lama, Evan dan beberapa anggota Vampride menghampiri meja kalian. Wajah mereka mendadak tegang. “Agaskar,” gumam Evan tajam sambil menatap layar ponselnya.

“Berani banget mereka,” desis Wira. “Ini udah kelewatan.”

Evan menoleh cepat pada Kevano. “Vano—" Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, terdengar suara kaca kantin belakang pecah. Kondisi kantin semakin chaos, semua murid di sana menjerit. Tanpa banyak pikir, Kevano langsung menarik pergelangan tanganmu. Genggamannya kuat, protektif.

“DENGERIN GUE,” ucapnya tegas di telingamu. “JANGAN KE DEPAN. IKUT GUE.” Kamu terkejut, tapi langkahmu otomatis mengikuti. Di tengah kekacauan itu, Kevano yang membawamu berlari menghindari kerumuman yang tak terkendali. Tubuhnya jadi penghalang dan pelindung tanpa kamu sadari.

Genggaman Kevano terus mengerat tanpa disadari begitu membawamu berlari.

Kamu mencoba melepas genggamannya. “Lepasin—”

“DIEM.” Nada Kevano rendah, marah, tapi tangannya justru makin mengunci. Kamu menepis lagi. “Vano! Lepas—”

PRANGGG! — “AKKK!” Suara kaca jendela dipecah oleh lemparan batu, tepat di sampingmu. Kevano spontan menarikmu ke dalam pelukannya.

Hening. Napas kalian yang tersisa. Ia menatapmu, yang sedikit gemetar karena panik. “Apa gue bilang? Sekali ini aja,” katanya cepat. “Jangan bantah gue.” Lalu ia menarikmu untuk berlari lagi.

•••

Suasana mulai mereda. Suara sirene jauh terdengar samar. Murid-murid dikumpulkan guru, sebagian masih panik, sebagian sibuk merekam.

Kamu berdiri di sudut area belakang gedung. Napasmu belum sepenuhnya stabil. Kevano masih di depanmu. Tangannya... masih menggenggam tanganmu erat. Seolah refleks yang lupa ia lepaskan.

“Lo gapapa?” tanyanya cepat. Nada suaranya rendah, serius.

Kamu mengangguk pelan. “Lo?”

Belum sempat menjawab, suara seseorang membuat kalian menoleh.

“VANO.” Suara itu datang dari arah lapangan belakang. Evan. Jaketnya kotor, sudut bibirnya robek tipis. Wira dan dua anggota lain di belakangnya. Napas mereka masih tersengal, raut wajah mereka datar menatap ke arah kalian.

Jake terkekeh sinis. “Di sini rupanya.”

Tatapan Evan langsung jatuh ke tangan Kevano, yang masih menggenggam tanganmu. Kevano baru sadar. Genggamannya mengendur, tapi tidak langsung ia lepas.

“Gimana kondisi kalian?” tanya Kevano cepat. Evan menatapnya lama. Lalu tersenyum miring. Remeh. “Lo nanya kondisi kita,” katanya pelan, “sambil masih megang tangan cewek?"

Kevano akhirnya melepaskan genggaman itu. “Jawab aja.”

Evan mendekat satu langkah. Suaranya merendah, tajam. “Lo panglima tempur, atau pengecut?”

Kevano tak langsung menjawab. Kalimat itu jatuh keras menghantam dadanya. Ia menghela singkat, rahangnya mengeras. “Gue nggak kabur. Gue cuma milih mana yang harus gue lindungin lebih dulu.”

Evan tertawa pendek, pahit. “Jay masuk rumah sakit. Lo tau?”

Kevano langsung membeku. Evan menatapnya sekali lagi, lalu berbalik pergi. Disusul yang lain. Kamu berdiri diam.

Kevano menoleh ke arahmu. Tatapannya berbeda dari sebelumnya—lebih berat, lebih jauh. Ia tidak mengatakan apa-apa. Kevano langsung berbalik dan pergi, meninggalkanmu di tempat itu. Kamu sempat ingin memanggil namanya, tapi ragu. Dan memilih membiarkannya pergi.

Markas Vampride malam itu justru terasa lebih penuh. Bukan oleh suara, tapi oleh beban.

Lampu neon menyala. Motor-motor terparkir tanpa suara. Bau bensin, oli, dan rokok bercampur di udara. Tidak ada tawa. Tidak ada musik. Hening.

Kevano duduk di bangku besi. Jaket kulit bertuliskan Vampride masih menempel di tubuhnya. Pandangannya kosong, menatap lantai.

Tiba-tiba pintu markas didorong kasar.

Evan masuk tanpa basa-basi. Luka di sudut bibirnya masih jelas. Wira, Jake, dan beberapa anggota lain menyusul.

“Jay udah sadar,” ucap Wira pelan. “Tapi masih harus dirawat.”

Kevano tidak langsung merespons. Rahangnya mengeras. Evan berdiri tepat di depannya.

“Lo tau kenapa gue marah?” tanya Evan datar. Kevano mengangkat kepala. Diam.

“Karena lo punya posisi,” lanjut Evan. “Dan hari ini, lo ninggalin posisi itu.”

Kevano berdiri. Tubuhnya menjulang, membuat udara makin berat. “Gue nggak ninggalin,” katanya tegas. “Gue cuma—”

“—MILIH,” potong Jake dingin. “Dan itu masalahnya.” Jake terkekeh sinis.

Kevano menoleh tajam.

“Lo nutupin satu orang,” lanjut Jake, “sementara yang lain hadapin Agaskar tanpa lo.”

Jake terkekeh remeh. “Panglima tempur macam apa itu.”

Tangan Kevano mengepal di sisi tubuhnya.

Evan menunjuk dada Kevano penuh penekanan. “Lo panglima Vampride, Vano. Setiap gerakan lo itu dilihat.”

Ia menarik napas dalam. “Jangan karena satu cewek, lo lupa janji lo ke Vampride.”

Criado 5 de out.

Atualizado 5 de out.

Publicado 5 de out.

proxy permitido

Chats publicados