obsesi
Di balik kaca besar kantornya yang menjulang tinggi, Lee Jovian selalu tampak dingin dan tak tersentuh. Semua karyawan mengenalinya sebagai CEO muda yang sukses, perfeksionis, dan tidak pernah menaruh perhatian pada hal-hal pribadi. Termasuk pada istrinya sendiri, baginya pernikahan ini hanya perjodohan.
Bagi kamu, pernikahan ini terasa seperti sangkar emas. Kamu memiliki segalanya—harta, nama besar, dan kehidupan mapan. Namun, yang tidak pernah kamu miliki hanyalah perhatian suaminya sendiri. Setiap kali kamu mencoba berbicara, Jovian hanya menjawab singkat atau sibuk dengan dokumen. Setiap kali kamu tersenyum, Jovian hanya menatap kosong seakan kamu hanyalah seseorang yang kebetulan menghuni rumah yang sama.
Hati kamu lama-lama retak. Kamu sering termenung di balkon apartemen megah itu, menatap lampu kota sambil bertanya-tanya apakah dirimu memang tidak berarti bagi Jovian. Kamu bahkan sempat berpikir, mungkin lebih baik jika kamu menghilang saja—Jovian pun tidak akan peduli.
Tapi yang kamu tidak tahu, adalah kenyataan yang jauh lebih kelam.
Di balik sikap dingin dan acuhnya, Jovian justru menyimpan obsesi yang begitu menyesakkan. Ia tahu setiap langkah kamu. Dari kamera CCTV pribadi yang ia pasang diam-diam di rumah, hingga pelacak kecil yang tersembunyi di ponsel kamu. Ia tahu kapan kamu pergi belanja, siapa saja yang kamu temui, bahkan ekspresi wajah kamu ketika merasa kesepian.
Kadang, larut malam, Jovian membuka laptopnya hanya untuk menonton rekaman kamu sedang membaca buku di sofa atau menangis diam-diam di kamar. Ia hafal setiap kebiasaan kecil kamu—cara kamu menggigit bibir saat gugup, cara kamu memainkan ujung rambut ketika bosan.
Jovian tidak pernah menunjukkan apa-apa, tapi di balik matanya yang tenang, obsesi itu semakin menjeratnya. Ia tidak bisa membiarkan siapa pun mendekati kamu, bahkan sekadar seorang teman.
Suatu hari, ketika kamu pulang lebih larut dari biasanya setelah bertemu sahabatnya, kamu menemukan Jovian duduk di ruang tamu. Tatapannya tajam, berbeda dari biasanya.
"Seneng, ya?" suara Jovian dalam, lirih, tapi penuh tekanan. "Ketemu orang lain, bisa ketawa-ketawa gitu... sampe lupa pulang."
Kamu tertegun. Itu pertama kalinya Jovian menunjukkan emosi.
"Kenapa... kamu marah? Kamu bahkan nggak pernah peduli aku pergi kemana," ucap kamu lirih, matanya mulai berair.
Jovian mencondongkan tubuhnya, tatapannya menusuk. "Siapa bilang aku nggak peduli? Aku selalu tahu... setiap langkah kamu. Kamu pikir aku bakal biarin kamu jauh dariku?"
Jantung kamu berdegup kencang. Untuk pertama kalinya, kamu sadar—Jovian tidak acuh. Justru sebaliknya, Jovian terlalu peduli. Terlalu terobsesi.
Dan sejak malam itu, kamu mulai melihat Jovian dengan mata yang berbeda.
Sejak malam itu, suasana di rumah mereka berubah. Kamu yang dulu merasa tidak pernah dianggap, kini justru merasa diawasi setiap saat. Jovian tidak lagi sekadar dingin—ia mulai menunjukkan sisi yang jauh lebih mengerikan.
Pagi itu, kamu baru saja selesai bersiap untuk keluar bertemu sahabatnya. Begitu kamu menuruni tangga, Jovian sudah duduk di ruang makan, menatapmu tanpa berkedip.
"Mau kemana?" tanyanya datar, tapi ada nada menuntut jawaban.
Kamu menelan ludah. "Aku... mau ketemu Hana sebentar. Cuma makan siang."
Jovian tersenyum tipis. "Cafe di PIK? Atau yang di mall?"
Kamu langsung membeku. Kamu tidak pernah bilang kafe mana. "Kamu... kamu ngikutin aku?"
Jovian bangkit dari kursinya, berjalan pelan mendekati kamu, lalu berhenti tepat di depannya. Ia mengangkat dagu kamu dengan jarinya, membuatmu terpaksa menatap matanya.
"Aku cuma memastikan kamu aman," bisiknya. "Dunia di luar sana berbahaya. Aku nggak bisa tenang kalau nggak tahu kamu ada di mana. Kamu... milikku. Dan aku nggak akan biarin siapa pun merebutmu."
Kamu menggigil. Ada bagian dirimu yang ingin menolak, marah, bahkan kabur. Tapi sorot mata Jovian... terlalu dalam, terlalu penuh kepemilikan. Seakan jika kamu melangkah pergi, Jovian akan menghancurkan siapa saja yang menghalanginya demi mendapatkannya kembali.
Beberapa hari kemudian, kamu mencoba memberanikan diri. Kamu mematikan ponselmu, berharap bisa sedikit bebas dari pengawasan Jovian. Tapi ternyata itu justru memperburuk keadaan.
Malamnya, Jovian pulang lebih cepat. Dengan wajah tenang, ia meletakkan ponsel kamu di atas meja. "Kenapa dimatiin?" suaranya rendah, tapi menusuk.
"Aku cuma... butuh ruang. Aku nggak bisa terus diawasi kayak gini, Jovian," suara kamu pecah, matamu berkaca-kaca.
Untuk pertama kalinya, wajah Jovian berubah. Ada kilatan amarah, tapi juga ketakutan. Ia menggenggam lengan kamu, menatapmu dalam.
"Kamu nggak ngerti," katanya pelan. "Kalau aku lepasin, dunia bisa ngambil kamu dariku. Aku nggak akan biarin itu terjadi. Lebih baik kamu benci aku... daripada aku harus kehilangan kamu."
Dan malam itu, kamu sadar: suamimu bukan sekadar pria dingin yang tidak peduli. Ia adalah pria yang terobsesi—hingga pada titik di mana cinta dan kepemilikan sudah tidak bisa dibedakan.
Kamu sudah tidak tahan lagi. Malam itu, setelah Jovian tertidur di kamar, kamu memberanikan diri untuk kabur. Dengan hati-hati, kamu mengambil tas kecil yang sudah diam-diam kamu siapkan beberapa hari terakhir. Kamu bahkan sudah meminta bantuan Hana, sahabatmu, untuk menjemput di ujung jalan.
Pelan-pelan, kamu membuka pintu depan dan melangkah keluar. Hujan gerimis turun, menyamarkan suara langkahmu. Jantungmu berdegup kencang—akhirnya, kamu akan bebas.
Namun, kebebasan itu hanya bertahan beberapa jam. Saat kamu dan Hana tiba di sebuah hotel kecil untuk bersembunyi, ponsel Hana tiba-tiba berdering dari nomor tak dikenal.
Hana mengangkat, dan suara di seberang membuat wajahnya pucat.
"Aku harap kalian menikmati 'pelarian kecil' ini," suara Jovian terdengar tenang, tapi mengerikan. "Tapi... pulanglah sekarang. Jangan buat aku kehilangan kesabaranku."
Kamu langsung merasakan tubuhmu melemas. "Dia tahu?" bisikmu gemetar.
Tak lama kemudian, sebuah mobil hitam berhenti di depan hotel. Dari dalamnya, muncul Jovian—rambutnya masih berantakan, tanda ia terburu-buru. Matanya gelap, penuh emosi yang tak bisa ditebak.
"Kamu," panggilnya pelan, namun tegas.
Kamu mundur selangkah, air matamu jatuh. "Kenapa kamu selalu ngikutin aku? Aku cuma pengen bebas, Jovian!"
Jovian mendekat, tangannya meraih lengan kamu lalu menarikmu ke pelukan dengan kasar. "Bebas? Bebas dari aku? Itu nggak akan pernah terjadi," bisiknya dingin di telingamu. "Kamu milikku. Sampai kapanpun. Kalau kamu kabur seribu kali pun, aku bakal selalu cari kamu."
Hana ingin menolong, tapi tatapan Jovian cukup untuk membuatnya membeku. Ia tahu, pria itu bukan orang yang bisa dilawan.
Dengan langkah mantap, Jovian menarik kamu masuk ke mobilnya. Sepanjang perjalanan, kamu hanya bisa menangis, sementara Jovian menggenggam tanganmu begitu erat seakan takut kamu menghilang lagi.
"Kamu nggak ngerti," suara Jovian lirih, tapi penuh tekanan. "Aku nggak bisa hidup tanpa kamu. Kalau aku kehilangan kamu... mungkin aku akan benar-benar gila."
Dan malam itu, kamu sadar—tak ada jalan keluar yang mudah. Dari sangkar emas, kini hidupmu berubah jadi sangkar obsesi.
Sejak gagal kabur, kamu merasa hidupmu makin terhimpit. Jovian tidak lagi sekadar mengawasi. Ia mulai membatasi semua hal: siapa yang boleh bicara dengan kamu, kemana kamu boleh pergi, bahkan pakaian yang kamu kenakan.
Setiap kali kamu menatap kaca besar di kamar, kamu merasa dirimu bukan lagi dirimu yang dulu. Kamu hanyalah boneka yang hidup di bawah tatapan penuh obsesi Jovian.
Namun, di balik kesedihanmu, kamu mulai menyusun rencana. Kamu tahu tidak bisa melawan Jovian secara terang-terangan. Jadi, kamu harus cerdas—harus membuat Jovian percaya bahwa kamu sudah menyerah, padahal diam-diam kamu mencari jalan keluar.
Malam itu kamu masuk ke ruang kerjanya, lalu menghampirinya.
Dengan suara lembut, kamu berkata, "Aku capek melawan kamu. Kalau memang kamu nggak mau aku pergi, ya sudah. Aku pasrah."
Jovian menatapmu lama, lalu senyum samar muncul di wajahnya. "Akhirnya kamu ngerti juga. Aku cuma butuh kamu di sini. Sama aku. Selalu."
Kamu tersenyum tipis, meski hatimu hancur. Di balik senyuman itu, kamu sudah menyiapkan langkah berikut: kamu diam-diam menghafal pola kunci di brankas Jovian, di mana kamu yakin ada dokumen penting yang bisa digunakan melawan pria itu.
Hari-hari berikutnya, kamu berpura-pura jinak. Kamu menurut, kamu manis, bahkan sesekali menggandeng tangan Jovian agar suaminya percaya. Dan Jovian? Ia terlena. Ia pikir kamu akhirnya luluh.
Tapi Jovian bukan pria bodoh.
Suatu malam, ketika kamu sedang mencari kunci mobil di ruang kerja Jovian yang kini gelap karena lampu mati, tiba-tiba lampu ruangan menyala. Jovian berdiri di pintu, matanya tajam menusuk.
"Aku tahu kamu akan coba sesuatu," suaranya tenang, tapi penuh ancaman.
Kamu terperangah, tubuhmu gemetar. "Jovian... aku—"
Belum sempat kamu melanjutkan, Jovian sudah melangkah cepat, menutup jarak, lalu memegang wajahmu dengan kedua tangannya. Sentuhannya lembut, tapi tatapannya membuat bulu kuduk merinding.
"Kamu kira aku nggak tau isi kepalamu? Aku udah lama tau. Kamu boleh pura-pura nurut, tapi aku bisa liat... mata kamu masih nyari celah buat kabur."
Air matamu jatuh. "Kenapa kamu lakuin ini ke aku?"
Jovian mendekatkan wajahnya, berbisik dengan suara rendah dan penuh obsesi.
"Karena aku lebih memilih kamu benci aku... daripada kamu hilang dari aku. Jadi jangan coba-coba lagi. Aku selalu selangkah di depanmu."
Dan di malam itu, kamu sadar—perjuangan melawan obsesi Jovian bukan hanya soal kabur, tapi soal bertahan hidup.
Criado 6 oct
Atualizado 6 oct
Publicado 6 oct