Pernikahan yang Tak Pernah Kau Inginkan
Kamu adalah seorang gadis cantik yang memiliki hati selembut sutra. Di usiamu yang masih 20 tahun dan kuliah semester tiga, kamu sudah harus menghadapi kenyataan pahit: menjalani pernikahan dengan pria yang tidak pernah memilihmu sebagai perempuan yang ingin ia cintai.
Jay seharusnya menjadi kakak iparmu, bukan suamimu. Namun, di hari yang seharusnya penuh janji suci itu, kakakmu justru melarikan diri tanpa alasan, meninggalkan Jay dalam kehancuran.
Tatapan pria itu, yang biasanya hangat dan penuh cinta—seketika kosong. Entah bagaimana badai itu menyeretmu hingga akhirnya kamulah yang berdiri di sampingnya di pelaminan, menggantikan posisi yang tak pernah ditujukan untukmu.
Sejak hari itu, Jay berubah menjadi asing. Senyum yang dulu selalu ia berikan pada kakakmu kini lenyap, berganti dengan kemurungan yang pekat. Kamu hanyalah "adik" yang terperangkap dalam status istri.
Di ruang kerjanya, foto mereka berdua masih berdiri kokoh, menjadi pengingat abadi bahwa di hati Jay, kamu tetaplah orang asing.
Pernikahan ini terasa sesak. Kamu tak pernah disentuh, bahkan nyaris tak diajak bicara. Jika pun dia bersuara, itu hanya untuk menanyakan kabar kakakmu—sebuah tanya yang menyiratkan bahwa posisimu bisa digantikan kapan saja jika kakamu kembali.
Malam ini, suasana rumah terasa lebih sunyi dari biasanya. Kamu duduk di ruang tamu ditemani suara televisi yang tak benar-benar kamu dengar, menanti bunyi gerbang rumah yang menandakan kepulangannya.
Dari pukul delapan hingga jarum jam menyentuh angka sebelas, Jay tak kunjung muncul.
Makanan di meja sudah mendingin—sama membekunya dengan hubungan kalian. Dengan hati yang hancur, kamu membuang masakan itu ke tempat sampah, rutinitas menyakitkan yang terus berulang.
Tepat saat itu, ponselmu bergetar memecah keheningan.
"Halo? kami dari pihak rumah sakit. Apa benar anda istri dari Pak Jay?"
"Iya benar. Ada apa?" tanyamu, sementara dadamu mulai bergemuruh hebat oleh firasat buruk.
"Suami Anda mengalami kecelakaan fatal akibat berkendara dalam keadaan mabuk. Saat ini, beliau sedang dalam kondisi koma."
• • •
Langkah kakimu bergema di koridor rumah sakit yang dingin. Sejak malam kecelakaan itu, duniamu seolah berhenti di ruang ICU.
Setiap hari, setelah menyelesaikan pekerjaan rumah yang kini terasa semakin hampa, kamu datang ke sana.
Kamu duduk di samping tempat tidur Jay, menggenggam tangannya yang tak membalas, dan membisikkan doa-doa yang mungkin tak pernah ia dengar.
Kamu merawatnya dengan ketulusan yang bahkan tak pernah ia minta—menyeka keningnya, mengganti bunga di vas, hingga memastikan pakaiannya selalu rapi.
Hingga di hari ke-empat belas, sebuah panggilan dari perawat membuat jantungmu hampir melompat keluar.
"Bu, Pak Jay sudah sadar."
Tanpa pikir panjang, kamu bergegas ke dapur rumah.
Dengan tangan gemetar karena bahagia, kamu memasak bubur hangat, memastikan teksturnya lembut agar mudah ia telan.
Kamu ingin menjadi orang pertama yang ia lihat saat ia membuka mata. Kamu ingin menunjukkan bahwa kamulah yang ada di sini, di titik terendahnya.
Sesampainya di depan pintu kamar rawat, napasmu tersengal. Kamu merapikan pakaianmu sejenak, tersenyum kecil sambil memeluk wadah bubur yang masih terasa hangat di tangan.
Namun, saat tanganmu hendak meraih gagang pintu, gerakanmu terhenti. Melalui celah kecil di pintu kaca, duniamu seolah runtuh seketika.
Jay tidak sendirian. Pria yang selama ini kamu rawat dengan penuh air mata itu kini sedang terduduk di ranjangnya, mendekap erat seorang wanita dengan sisa tenaga yang ia miliki. Wanita itu... kakakmu.
Sosok yang meninggalkannya di hari pernikahan, kini kembali dan mengisi pelukan yang seharusnya menjadi hakmu.
Dari balik kaca, kamu bisa melihat Jay menyembunyikan wajahnya di bahu kakakmu, seolah menemukan kembali jiwanya yang hilang.
Tak ada ruang bagimu di sana. Bubur di tanganmu kini terasa berat, sama beratnya dengan kenyataan bahwa sekeras apa pun kamu berjuang, kamu tetaplah bayangan di mata Jay.
Tanganmu gemetar hebat saat memaksakan diri memutar gagang pintu itu. Suara gesekan pintu yang terbuka membuat kedua orang di dalam sana menoleh serentak.
"Jay..." suaramu tercekat di tenggorokan.
Namun, langkahmu terhenti seketika. Hal pertama yang menyambutmu bukanlah ucapan terima kasih karena telah merawatnya selama masa koma, melainkan sebuah senyuman.
Senyum yang selama berbulan-bulan pernikahan kalian tak pernah ia perlihatkan padamu. Senyum lebar, tulus, dan penuh binar kehidupan—senyum yang dulu hanya ia miliki saat ia masih bersama kakakmu.
Kini, senyum itu kembali, tapi bukan untukmu.
"Eh, kamu datang?" Kakakmu menyapa dengan wajah yang sulit diartikan, namun ia tetap tidak melepaskan genggaman tangan Jay.
Kamu menatap Jay, berharap ada sedikit pengakuan atau binar rindu di matanya. Namun, Jay hanya menatapmu dengan kening berkerut, seolah sedang berusaha memproses siapa gadis yang berdiri membawa wadah bubur di depan pintunya.
"Sayang, ini siapa?" tanya Jay lembut sambil menoleh ke arah kakakmu. Kalimat itu menghujam jantungmu lebih dalam dari apa pun. 'Sayang' Panggilan yang tak pernah sekalipun ia tujukan padamu selama kalian berumah tangga.
"Jay, ini adikku. Kamu ingat kan?" sahut kakakmu pelan.
Jay terdiam sejenak, lalu tertawa kecil—tawa renyah yang terasa sangat asing di telingamu.
"Ah iya. Kamu adiknya ya? Maaf, kepalaku agak pusing. Aku lupa kalau pacarku punya adik yang sudah besar sepertimu."
Wadah bubur di tanganmu terasa mendingin seketika.
Tak lama, dokter menjelaskan kenyataan yang lebih pahit dari kematian: Jay mengalami amnesia. Memorinya terhenti tepat di masa-masa indah saat ia dan kakakmu masih berpacaran.
Baginya, pernikahan kalian tidak pernah terjadi. Baginya, pengkhianatan kakakmu yang kabur di hari pernikahan hanyalah fiksi yang tak pernah ada. Dan baginya... kamu tetaplah hanya seorang 'adik' yang tidak memiliki tempat di hatinya.
Kamu berdiri mematung di sudut ruangan, menyaksikan Jay yang terus bersikap manja dan tak ingin melepaskan tangan kakakmu.
Kamu, istrinya yang sah, yang terjaga tiap malam mendoakan kesembuhannya, kini justru menjadi orang asing yang menonton kemesraan mereka.
Menyaksikan pemandangan di depan mu hanya menghancurkan sisa-sisa kekuatanmu. Jay mulai memakan bubur itu—bukan dari tanganmu, melainkan disuapi oleh kakakmu dengan penuh tawa.
Setiap suapan dan setiap tawa mereka adalah sesuatu yang perlahan menyayat hatimu.
Setelah Jay menghabiskan makanannya dan mulai tampak mengantuk, kakakmu perlahan melepaskan genggaman tangannya. Ia menatapmu sekilas, lalu memberi isyarat agar kamu mengikutinya keluar.
Kini, kalian berdua berdiri di lorong rumah sakit yang sepi dan dingin. Kakakmu melipat tangan di dada, menatapmu tanpa ada raut rasa bersalah yang berarti.
"Dengar," kakakmu memulai pembicaraan dengan suara rendah.
"Biarkan saja seperti ini untuk sementara. Biarkan Jay mengira aku dan dia masih seperti dulu."
Kamu menatapnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Apa maksudmu? Aku istrinya kak. Kita sudah menikah!"
Kakakmu justru mendengus pelan, seolah ucapanmu adalah beban baginya.
"Mungkin ini cara semesta memperbaiki semuanya. Seharusnya jalannya memang begini kan? aku dan Jay yang bersama. Mungkin takdir menyuruh hubungan kami membaik lagi karena pada dasarnya... kami memang saling memiliki."
Ia melangkah mendekat, menatapmu dengan sorot mata yang seolah menganggap pengorbananmu selama ini tidak pernah ada.
"Kamu hanya pengganti sementara karena aku pergi kemarin. Sekarang aku sudah kembali, dan Jay pun hanya mengingat aku. Jangan egois dengan merusak ingatannya sekarang, itu bisa membahayakan nyawanya. Biarkan dia bahagia dengan ingatannya yang sekarang."
Kalimat itu terasa begitu dingin. Kakakmu seolah sedang mengklaim kembali miliknya, sementara kamu dipaksa untuk kembali menjadi bayangan yang tak terlihat.
Kamu berdiri di sana, di lorong rumah sakit yang asing, menyadari bahwa di mata semua orang, termasuk suamimu sendiri, keberadaanmu hanyalah sebuah kesalahan yang ingin mereka hapus.
Criado 14 de out.
Atualizado 14 de out.
Publicado 14 de out.