sebaik-baik teknik,lebih baik jangan
Malam itu, salah satu base anak Teknik di kampusmu mendadak heboh. Kali ini, nama salah satu mahasiswa yang sudah terlalu sering wara-wiri di base kembali menjadi bahan cuitan. Dan seperti biasa, cukup untuk membuat para penggemar setianya ikut nimbrung.
Albara. Mahasiswa Teknik Mesin yang namanya nyaris tak pernah absen dari timeline. Kadang karena prestasinya, tapi lebih sering karena kelakuannya. Apalagi kalau bukan soal perempuan. Namanya hampir selalu punya cerita baru. Entah soal tongkrongan famous yang selalu berakhir menjelang pagi, jaket himpunan yang masih melekat saat ia datang ke kampus, atau perempuan lain yang belakangan terlihat bersamanya. Albara memang terkenal. Terlalu terkenal, bahkan. Tengil, suka cari masalah, dan seolah tak pernah kehabisan perempuan. Si teknik redflag berjalan, kalau kata sebagian orang waras. Tapi anehnya, fansnya selalu ada saja yang rela pura-pura buta.
Dahimu mengernyit saat matamu berhenti pada sebuah foto yang sejak tadi memenuhi timeline. Albara masih dengan jaket hitam dan helm half-face yang menutupi sebagian wajahnya, duduk di atas motor sambil memboncengi seorang mahasiswi Psikologi yang sama sekali tak kamu kenal. Kedua tangan perempuan itu melingkar santai di pinggangnya, sementara Albara menoleh sedikit ke belakang dengan senyum yang masih bisa terlihat jelas di balik helm. Senyum yang beberapa minggu lalu, masih kamu kira hanya milikmu.
[BASE TEKNIK] "Guys ini Albara anak mesin bukan sih? kok kayaknya udah punya gandengan baru aja. Literally baru putus, loh. Eh sekarang udah boncengin anak psikologi wkwkwk. Cocok sih mereka, sama-sama cakep. Btw ada yang tau kabar mantannya? takutnya masih galau... atau jangan-jangan malah belum move on WKWKWK."
Kamu spontan berdecak jijik. "Najis banget??? Ogah banget gue galauin cowok gila itu." Ponselmu kamu letakkan sedikit kasar di atas meja cafe, sebelum tanganmu meraih gelas minuman yang nyaris habis dan menyesapnya dengan wajah kesal.
Teman-temanmu sontak mengangkat kepala dari ponsel masing-masing. Senyum dan kekehan kecil langsung terdengar dari sekitar meja. Reaksimu tentu saja sudah bisa mereka tebak setelah kalian melihat unggahan X itu bersamaan. "Gue bilang juga apa. Sebaik-baiknya anak Teknik, lebih baik jangan," celetuk Giselle sambil terkekeh puas. "Lo nggak percaya sama gue, sih." Jessie hanya tersenyum simpul sembari menyesap es kopinya. "Sia-sia air mata lo seminggu kemarin, nangisin anak Teknik jahat."
Kamu memutar bola mata. "Ya udah, sih. Anggap aja kemarin gue dipelet sama dia." "Dipelet sampe ciuman tiap ketemu?" sahut Giselle dengan wajah penuh seringai jahil. Kamu sontak melotot. Hampir saja minuman yang baru kamu teguk menyembur karena tersedak. Sementara ketiga temanmu justru pecah tertawa melihat reaksimu. Kamu kembali berdecak sebal. "Giselle, shut up. It's so disgusting to remember."
Malam itu, bukannya tidur lebih awal, kamu malah masih duduk dengan laptop di pangkuanmu. Sejak pulang dari cafe tadi, entah kenapa kepalamu masih penuh oleh unggahan base Teknik yang menyebalkan itu. Berkali-kali kamu mencoba mengabaikannya, tetapi kalimat terakhir dalam menfess tersebut terus terngiang-ngiang. "Najis," gumammu sebal.
Kamu menggeleng, lalu kembali memusatkan perhatian pada layar laptop di hadapanmu. Beberapa halaman jurnal hukum terbuka, lengkap dengan catatan dan buku yang berserakan di atas karpet. Jam digital di sudut ruangan sudah menunjukkan 02.11 dini hari. Kamu sebenarnya sudah mengantuk, tapi rasa kesal membuatmu enggan tidur. Daripada terus memikirkan Albara, lebih baik tugas kuliahmu selesai malam ini. Setidaknya, begitu yang kamu pikirkan.
Sampai sebuah getaran dari sisi laptop membuat jemarimu berhenti mengetik. Ponselmu menyala, satu nama muncul di layar. Albara.
Kamu terdiam. Alismu perlahan terangkat. Untuk beberapa detik, kamu hanya menatap notifikasi itu tanpa berniat menyentuhnya. Setelah putus, laki-laki itu hampir tidak pernah menghubungimu. Dan sekarang, setelah foto dirinya bersama perempuan lain beredar di seluruh base kampus... ia malah menghubungimu? Gila. Memang.
💬 Albara
"Ksmu dsmna"
"Aku kgsn"
"🥺🥺"
Wajahmu seketika berubah jijik. Sudah bisa ditebak apa yang terjadi dengan laki-laki itu. Kamu menggeleng pelan, lalu mengunci layar ponsel dan kembali menatap laptop, berusaha menganggap pesan tadi tidak pernah ada. “Cowok sinting,” desismu.
Baru beberapa menit kembali mengetik, ponselmu kembali berbunyi. Sekali. Dua kali. Lalu terus-menerus tanpa henti. Kamu masih berusaha mengabaikannya sampai suara notifikasi yang bertubi-tubi itu mulai benar-benar mengganggu konsentrasimu. “Ck. Apaan sih...” gumammu kesal.
Dengan wajah malas, kamu meraih ponsel. Ternyata bukan Albara. Tapi teman-temannya.
💬 Jake
"albara kobam ege Dia manggil nama lo terus ini"
"P"
"Bales cok, repotin banget si mantan lo"
Belum sempat kamu membalas, pesan lain masuk.
💬 Jay
"Si bara manggil-manggil lo mulu anj"
"Lo kenapa ga bales wa dia? kek orang gila dia di sini"
Kamu menatap layar beberapa detik dengan ekspresi tidak percaya. Antara heran, kesal, dan ingin melempar ponselmu ke sofa. Kenapa sekarang jadi urusanmu? Bukankah beberapa jam lalu laki-laki itu masih sibuk membonceng perempuan lain?
Kamu mengusap wajah kasar, lalu mendecih. “Bodo amat, anjir. Apa urusannya sama gue, sih?” gerutumu. “Pada goblok amat, dah.”
Kamu baru saja hendak meletakkan ponsel kembali ketika layar kembali menyala. Jay calling...
Kamu menatap nama itu cukup lama. “Ck.” Dengan enggan, akhirnya panggilan itu kamu angkat. “Apaansih, Jay? Itu bocah udah bukan urusan gue. Don't tell me anything about him, gue nggak mau tahu—” “Gue sama Jake mau anterin dia ke apartemen lu, ya?” ucap Jay sedikit terburu-buru. Kamu terdiam. “Hah?” “Dia ngamuk-ngamuk mau ketemu lo.” Suara Jay terdengar sedikit panik. “Gue udah coba bawa pulang, dia nggak mau. Maunya lo.” Kamu mendengus tidak percaya. “Bodo amat, anjir. Why the hell would you bring him here? Gue nggak bakal bukain pintu.” Jay mengembuskan napas singkat. “Ya terus kita bawa ke mana? Dia nggak mau pulang.” “Bawa ke rumah ceweknya kek. Kemana kek. Why is that suddenly my problem?” tegasmu penuh kesal. “Gue sama dia udah putus, Jay. We're done. Jadi jangan bikin gue ikut ngurusin dia cuma gara-gara dia mabuk.” “Tapi—” Kamu berdecak. “Udah. Gue mau tidur.”
TUT—Panggilan kamu akhiri begitu saja. Kamu meletakkan ponsel di atas meja dengan sedikit lebih keras dari seharusnya. Matamu kembali menatap laptop, kursor masih berkedip di tengah paragraf tugas yang sejak tadi tidak kunjung selesai.
Kamu terdiam beberapa detik, dadamu masih naik turun pelan menahan kesal. Lalu kamu menghela napas panjang. “Bodo amat.” Jemarimu kembali bergerak di atas keyboard, berusaha mengacuhkan segala hal yang sejak tadi mengganggu pikiranmu malam itu.
Tapi ternyata kedamaian itu tak berlangsung lama. TING TONG.
Suara bel apartemen kini tiba-tiba menghentikan gerakan jemarimu. Kepalamu terangkat pelan penuh was-was dan curiga. Tubuhmu membeku, sementara bel itu kembali berbunyi. Sekali lagi. Lagi dan lagi. Kamu menggigit bibir, menahan kesal yang mulai bercampur dengan rasa bingung. “Shit. Mereka beneran kesini?” batinmu.
Karena bel tak kunjung berhenti, akhirnya kamu bangkit dengan malas dan berjalan menuju pintu. “Sialan banget nih bocah kampret,” gerutumu.
Begitu pintu terbuka, dugaanmu langsung terbukti. Benar saja, Jay dan Jake berdiri di depan sana. Dan di antara keduanya, ada Albara. Kedua lengan laki-laki itu disampirkan di pundak mereka. Tubuhnya tampak lemas, kepalanya tertunduk tanpa tenaga, sementara mulutnya masih meracau tak jelas. “Lama amat bukain pintu doang. Keburu digrebek penghuni apartemen sebelah,” celetuk Jay dengan wajah malas.
Kamu langsung berdecak dan memutar bola mata. “Ngapain sih lo bawa dia ke sini sih—” Belum sempat menyelesaikan omelanmu, Jake dan Jay malah melangkah maju dan dengan seenaknya melepaskan pegangan mereka. Tubuh Albara sontak jatuh ke arahmu. “Woy—” Kamu refleks menangkapnya.
Criado 20 de set.
Atualizado 20 de set.
Publicado 20 de set.