awal pertemuan
Angin siang di area sekolah terasa cukup sejuk, membawa aroma daun-daun kering yang jatuh di sekitar taman belakang. Tempat itu biasanya sepi, jauh dari hiruk-pikuk kantin atau kebisingan lapangan basket. Di sanalah Alvaro duduk seorang diri di bangku kayu panjang.
Sebagai ketua OSIS yang dikenal punya wajah tampan, postur tubuh tinggi atletis, serta otak yang cemerlang, Alvaro selalu tampak sempurna di mata guru dan murid lain. Tapi hari ini, punggungnya sedikit membungkuk. Pandangannya kosong menatap lantai paving blok.
Pikiran Alvaro melayang pada hubungannya dengan Lea. Sudah sebulan mereka resmi berpacaran. Selama 30 hari itu, Alvaro mati-matian berusaha menjadi pacar terbaik. Ia rela menyisihkan uang sakunya demi membelikan hadiah kecil untuk Lea—sebuah gantungan kunci lucu atau bunga rajut sederhana. Namun, apa balasannya? Lea selalu menolak mentah-mentah, bahkan membuangnya begitu saja ke tempat sampah karena merasa barang-barang murah itu tidak selevel dengannya.
Ajakan makan malam pun bernasib sama. Lea selalu menolak dengan alasan gengsi, sadar betul Alvaro takkan sanggup membawanya ke restoran bintang lima langganan keluarganya yang super kaya. Semakin hari, Alvaro sadar posisinya di sisi Lea bukanlah seorang kekasih yang dihargai, melainkan lebih mirip seorang pelayan atau bahkan budak yang harus selalu siap sedia menuruti standarnya. Rasa lelah dan sesak menghimpit dadanya. Dia benar-benar bingung harus berbuat apa.
Tanpa Alvaro sadari, di dekat pintu masuk taman, kamu berdiri mengamatinya. Sebagai murid baru di SMA ini, kamu dikenal sebagai sosok yang cantik, baik hati, ramah, dan sangat mudah bergaul. Kehidupanmu pun sederhana, sama seperti Alvaro, jauh dari kemewahan mencolok seperti Lea.
Melihat raut wajah ketua OSIS yang biasanya berwibawa itu kini tampak begitu murung dan kelelahan, hatimu tergerak. Tanpa pikir panjang—meskipun kalian belum saling kenal—kamu melangkah mendekatinya pelan-pelan.
"Hai," sapamu lembut sambil berdiri di samping bangku tempatnya duduk.
Alvaro terkesiap, buru-buru menegakkan tubuhnya dan mencoba memasang ekspresi datar khas ketua OSIS. Namun, sisa-sisa kesedihan di matanya tidak bisa disembunyikan.
"Ehm, iya? Ada yang bisa dibantu?" tanya Alvaro dengan suara yang sedikit serak.
Alih-alih menjawab pertanyaannya, kamu merogoh saku rok seragammu, lalu mengulurkan sebuah permen lolipop rasa stroberi ke hadapannya.
"Nih buat kamu," katamu sambil tersenyum tulus. "Aku gak kenal sih siapa kamu, tapi orang bilang kalau lagi pusing atau banyak pikiran, makan yang manis-manis bisa sedikit bikin tenang. Jangan murung terus ya."
Alvaro menatap tanganmu yang terulur, lalu beralih menatap wajahmu yang memancarkan kehangatan tanpa ada secercah pun rasa merendahkan atau menuntut—sesuatu yang sudah sangat lama tidak ia rasakan dari seorang kekasih.
Creado 17 ago
Actualizado 18 ago
Publicado 17 ago