detektif yang menyamar
Nama kamu sering kali terpampang di deretan trending topic media sosial. Dengan sepuluh juta pengikut di setiap platform—mulai dari Instagram hingga TikTok—hidup kamu seolah tidak pernah sepi dari sorotan kamera, lampu kilat, dan pujian. Di usia dua puluh satu tahun, kamu menjalani hari-hari sebagai mahasiswi di salah satu universitas swasta paling elit di Jakarta, membagi waktu antara bangku kuliah dan segudang kesibukan sebagai content creator. Banyak yang mengira hidup kamu sempurna: cantik, ramah, dan selalu tersenyum di depan kamera.
Namun, di balik riuhnya dunia digital itu, ada satu hal kecil yang tidak pernah kamu sadari.
Hari itu, koridor gedung fakultas terasa lebih ramai dari biasanya. Kamu sedang berjalan santai sambil merapikan tas kuliah, ditemani obrolan ringan dengan beberapa teman. Tanpa sengaja, matamu menangkap sosok seorang pria asing bersetelan jaket varsity kampus yang berdiri bersandar di dekat jendela besar. Wajahnya tajam, rahangnya tegas, dan ada aura dingin yang langsung menguar dari dirinya, seolah ia sangat terganggu dengan keramaian di sekitarnya.
Namanya Heksa. Di kampus ini, ia dikenal sebagai mahasiswa pindahan baru yang misterius. Jarang bicara, ekspresinya selalu datar, dan sorot matanya tajam mengintimidasi siapa saja yang mencoba mendekat. Tidak ada yang tahu, di balik penyamaran rapi sebagai mahasiswa tingkat akhir, tersimpan identitas aslinya: seorang detektif muda berusia dua puluh lima tahun berbakat yang sedang mengambil cuti panjang dari satu kasus besar.
Alasan utamanya berada di sini sama sekali bukan untuk belajar.
Tujuh bulan lalu, di tengah malam yang sunyi saat ia sedang beristirahat dari tumpukan berkas investigasi, jarinya tanpa sengaja menggulir layar ponsel. Algoritma media sosial mempertemukannya dengan sebuah foto sederhana diri kamu yang sedang tersenyum memegang secangkir kopi di sebuah kafe. Seketika itu juga, sang detektif yang terkenal dingin, cuek, acuh tak acuh, dan bahkan dikenal anti wanita oleh rekan-rekan sekantornya, mendadak terpaku. Pertahanan mental yang ia bangun bertahun-tahun runtuh hanya karena sebuah senyuman di layar ponsel.
Bagi Heksa, memecahkan teka-teki kriminal tingkat tinggi adalah makanan sehari-hari. Namun, mendekati kamu—seorang gadis yang kehidupannya selalu dikelilingi kamera dan perhatian publik—adalah kasus tersulit yang pernah ia hadapi. Karena tidak sedang memegang tugas kepolisian, ia memutuskan menggunakan keahlian investigasinya untuk misi yang sama sekali berbeda: mencari perhatian kamu alias caper.
Masalahnya, sifat asli Heksa yang kaku membuatnya sering salah tingkah di hadapan kamu.
Suatu siang, saat kamu sedang duduk di kantin bersama beberapa teman untuk mengerjakan tugas, tiba-tiba sebuah kaleng soda dingin disodorkan tepat di samping wajahmu. Kamu menoleh dan mendapati Heksa berdiri di sana dengan wajah datarnya yang biasa.
"Nih. Buat kamu," ucap Heksa singkat, nyaris tanpa ekspresi, meski telinganya sedikit memerah yang berhasil ia tutupi dengan gestur dingin.
Kamu mengerjap bingung, tersenyum ramah seperti biasa kepada siapa pun. "Eh? Untuk aku? Wah, terima kasih banyak, ya... Um, Heksa, kan?"
Heksa mengangguk kaku, lalu langsung berbalik badan tanpa menunggu jawaban lebih lama, berjalan pergi dengan langkah cepat seolah-olah baru saja tertangkap basah melakukan kesalahan besar. Di balik sikap sok cueknya, jantung detektif itu berdegup dua kali lebih cepat dari biasanya. Ia merutuki dirinya sendiri karena lupa mengucapkan kalimat perkenalan yang manis seperti yang diajarkan di internet.
Hari-hari berikutnya terus berlanjut dengan pola yang sama anehnya. Heksa selalu ada di sekitar kamu, meski ia selalu memasang jarak. Saat kamu kesulitan membawa tumpukan buku perpustakaan, tiba-tiba buku-buku itu sudah berpindah ke tangan seseorang berwajah dingin yang langsung meletakkannya di meja tanpa pamit. Saat kamu tampil di acara seminar kampus, ia duduk di barisan paling belakang, mengamati setiap gerak-gerikmu dengan tatapan intens seorang detektif yang sedang mengumpulkan bukti.
Kamu memang belum menyadari bahwa di balik jaket varsity dan tatapan acuh tak acuhnya, pemuda itu adalah pengagum rahasia terbesar yang rela menyamar demi bisa mencuri pandang setiap hari. Namun, ada satu hal yang mulai kamu rasakan: di antara ribuan komentar pujian di kolom media sosial kamu yang terasa maya, kehadiran sosok dingin yang kikuk namun selalu melindungimu secara diam-diam di dunia nyata ini perlahan-lahan mulai menarik perhatian kamu.
Creado 13 sept
Actualizado 13 sept
Publicado 13 sept