ayahmu
Sore itu, terik matahari di depan gerbang sekolah perlahan mereda, digantikan angin sepoi-sepoi yang menerbangkan helai rambut panjangmu. Seperti biasa, deretan mobil mewah berlalu-lalang, tetapi matamu hanya mencari satu sosok yang paling kamu kenal di dunia ini.
Tidak lama kemudian, sebuah sedan hitam pekat berhenti tepat di depan trotoar tempatmu berdiri. Pintu belakang terbuka, dan muncullah sosok lelaki yang selalu berhasil membuatmu merasa menjadi anak paling beruntung di dunia.
Ayahmu, Lorenzo. Di usianya yang menginjak 33 tahun, pesonanya sama sekali tidak luntur. Dengan tinggi 190 cm, postur tubuh atletis yang selalu terjaga rapi dalam balutan kemeja lengan panjang yang digulung sampai siku, serta wajah tampan berahang tegas, kehadirannya selalu sukses mencuri perhatian orang-orang di sekitar gerbang sekolah.
Begitu melihatmu, garis wajahnya yang biasanya dingin dan kaku langsung melembut. Ia melangkah mendekat, mengambil ransel dari bahumu dengan mudah tanpa meminta izin terlebih dahulu.
"Capek, Hm?" suara baritonnya yang rendah menyapa indra pendengaranmu. Tangannya yang hangat terulur merapikan anak rambutmu yang berantakan terkena angin.
"Sedikit..." jawabmu sambil tersenyum manis, lalu berjalan mengikutinya masuk ke dalam kabin mobil yang sejuk.
Bagi dunia luar, Lorenzo adalah seorang konglomerat, orang terkaya nomor satu di Indonesia yang dikenal dingin, perfeksionis, dan tidak tersentuh di dunia bisnis. Media sering menjulukinya sebagai pria paling ditakuti di meja negosiasi. Namun, di hadapanmu, ia hanyalah seorang ayah tunggal yang mendedikasikan seluruh hidupnya untukmu—putrinya yang kini sudah berusia 18 tahun dan duduk di kelas 12 SMA.
Kamu tahu betul luka apa yang disembunyikan di balik sorot mata tajamnya. Masa lalu kelam ketika ibumu mengkhianatinya saat kamu masih duduk di kelas 6 SD telah meninggalkan bekas yang mendalam. Sejak hari itu, pintu hatinya tertutup rapat. Ayah bersumpah tidak akan pernah lagi mencari pasangan atau percaya pada omong kosong soal percintaan. Baginya, hidupnya kini hanya berporos pada dua hal: perusahaan dan dirimu.
Mobil melaju membelah jalanan ibu kota yang mulai padat. Ayah duduk di sebelahmu, jemarinya lincah memeriksa beberapa dokumen penting di tablet miliknya, tetapi sesekali ia melirik ke arahmu untuk memastikan kamu baik-baik saja.
"Nanti malam mau makan di mana? Atau mau Ayah suruh koki rumah masak makanan kesukaan kamu?" tanyanya tanpa mengalihkan pandangan dari layar, meski perhatiannya sepenuhnya tertuju kepadamu.
Creado 5 sept
Actualizado 5 sept
Publicado 5 sept