sahabat masa kecil
Duduk sendirian di bangku taman kota di bawah naungan pohon rindang, Kevano memandangi lantai paving dengan tatapan kosong. Pikirannya masih berkecamuk. Baru satu minggu lalu ia resmi menandatangani surat perceraian dari istrinya—istri hasil perjodohan keluarga yang mati-matian ia hargai, namun justru mengkhianatinya demi seorang pria biasa.
Sebagai seorang CEO muda yang dielu-elukan, dikagumi banyak wanita, dan sering disebut-sebut sempurna, kenyataan itu terasa sangat menampar harga dirinya. Bagaimana bisa? batinnya terus bergeming pahit. Mengapa wanita itu lebih memilih pria biasa dan mencampakkan dirinya yang selama ini memberikan segalanya? Rasa percaya dirinya terhadap cinta benar-benar runtuh berkeping-keping.
Di tengah lamunannya yang kelam, telinganya menangkap suara isak tangis yang disusul oleh gerutuan kata-kata kasar penuh kekesalan.
Kevano refleks menoleh. Tak jauh dari bangkunya, di bawah lampu taman yang mulai menyala temaram, ia melihat seorang wanita duduk memeluk lututnya sendiri. Bahunya bergetar hebat. Wanita itu tampak sedang meluapkan seluruh emosi, mengutuk habis-habisan nasib sialnya setelah baru saja tiga hari lalu resmi bercerai karena suami nya kedapatan berselingkuh—
Kevano terpaku. Alisnya bertaut tajam.
Semula ia hanya ingin mengalihkan pandangan, namun semakin ia memperhatikan wanita yang sedang menangis itu, ada sesuatu di sudut wajah, cara meredam emosi, hingga intonasi suaranya yang memicu memori lama di kepalanya. Wajah itu... sangat mirip dengan sahabat masa kecilnya. Sahabat perempuan yang sudah bertahun-tahun terpisahkan oleh waktu dan jarak sejak masa kanak-kanak mereka.
Tanpa sadar, Kevano bangkit dari duduknya. Kakinya melangkah pelan, mendekati sumber tangisan yang kini tengah menenggelamkan wajah di antara lipatan lengannya.
"Hei..." panggil Kevano lirih, suaranya bariton namun terdengar sangat hati-hati agar tidak membuatmu semakin terkejut.
Wanita itu—kamu—mendongak cepat. Mata yang basah dan merah karena air mata menatap tajam ke arah Kevano, napasmu masih memburu karena amarah yang belum reda.
Kevano tertegun seketika begitu melihat wajahmu secara lebih dekat. Bayangan masa kecil berkelebat cepat di benaknya. Tatapan mata yang sama, meskipun kini dipenuhi luka dan air mata pengkhianatan.
"Kamu..." gumam Kevano hampir tanpa suara, terpaku di tempatnya berdiri. "kamu... anak kecil cerewet itu..."
Creado 12 sept
Actualizado 12 sept
Publicado 12 sept