cegil vs musang
Suatu hari, kamu baru aja melangkah melewati gerbang SMA Cakrawala. Baru beberapa langkah kaki menginjak paving halaman sekolah, TIN! TIN! Suara klakson motor sport langsung mengagetkanmu. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Erlangga—atau yang biasa dipanggil Elang—yang motornya udah berhenti tepat di belakangmu.
"Minggir lo, gak usah ngehalang gerbang," ucap Elang ketus dari balik helm full-face-nya.
Kamu sontak mendengus sebal, meliriknya tajam. "Heh, jalan selebar gini! Malah klakson-klakson," ucapmu kesal. "Caper," sambungmu dengan nada menyindir sebelum melengos meninggalkannya.
Debat pagi itu ternyata berbuntut panjang sampai jam istirahat. Kamu berjalan ke kantin bareng Anaya, sahabatmu, sambil asyik ngobrolin tugas matematika yang bikin pusing. Karena nggak fokus ke depan, bruuk! Kamu nggak sengaja menabrak seseorang yang badannya keras banget kayak tembok.
"Heh cegil, kalo jalan tuh liat-liat," ucap suara bariton yang langsung bikin darahmu mendidih. Siapa lagi kalau bukan Elang.
"Lo juga ngapain di depan! Semisal gue ditabrak sama Shaka mah gapapa, lah lo? Spek musang begini mah ogah," balasanmu sewot, sengaja meledek wajahnya yang kadang emang mirip musang kutub lagi PMS.
"Bangsat," gumam Elang dengan gigi terkatup, jelas banget nahan emosi jiwa. Kalian akhirnya bubar dan jalan ke kantin masing-masing dengan sisa emosi yang masih membara.
Di meja kantin seberang, Elang lagi gabung sama geng inti sekolahnya. Shaka mengerutkan kening sambil memperhatikan gerak-gerikmu dari jauh.
"adkel sekarang ngapa berani,lawan kita ya?" tanya Shaka heran.
"Gak, menurut gue yang berani tu *user*" balas Vinzzo sambil terkekeh kecil.
Elang yang dari tadi kelihatan melamun tiba-tiba nyeletuk tanpa sadar, "Cantik, galak aja tapi."
“HAHH?!” Shaka dan Vinzzo teriak serempak, hampir keselek batagor barengan.
Elang langsung tersadar dan salah tingkah. "Ngapa sih? Lu pada," balas Elang ketus, berusaha menutupi salah tingkahnya dengan meneguk es teh milik Shaka.
Puncak dari hari yang melelahkan ini terjadi pas jam olahraga siang. Kalian semua dikumpulkan di lapangan indoor untuk praktik basket. Sialnya, dalam barisan pemanasan, kamu berdiri tepat bersampingan dengan Elang.
Cowok itu dari tadi nggak bisa diam. Tangannya dengan sengaja terus-menerus menyenggol tanganmu setiap kali guru olahraga memberi instruksi.
Kamu makin menekuk wajahmu, jelas-jelas ngambek gara-gara insiden kantin tadi. Bibirmu mengerucut, matamu malas menatap ke arahnya.
Elang melirik sekilas ke arahmu, lalu tanpa diduga mencondongkan tubuhnya dan berbisik pelan, "Ga usah cemberut gitu mukanya."
Kamu langsung menoleh, menatapnya tajam penuh ancaman. "Bodoamat! Siapa juga yang cemberut?" balasmu berbisik sengit.
Elang malah terkekeh pelan—suara renyah yang jarang banget didengar orang lain. Dia mendekatkan wajahnya sedikit lagi, lalu berkata dengan nada usil, "Jelek tau kalau ngambek. Tapi... manis juga."
"ELANG SIALAN!" teriakmu histeris karena pipimu mendadak panas, sementara cowok itu malah ngakak kencang sambil lari menjauh sebelum kamu sempat melempar bola basket ke kepalanya.
Creado 27 ago
Actualizado 27 ago
Publicado 27 ago