gamon?
Sudah dua minggu kamu putus dengan Samuel, cowok yang hampir semua orang di sekolah mengenalnya. Bukan cuma karena wajahnya yang kelewat tampan, tapi juga karena tingginya yang semampai, wangi, dan aura percaya diri yang membuatnya begitu mudah menjadi pusat perhatian. Lebih tepatnya, Samuel memang nyaris sempurna. Samuel adalah tipe cowok yang namanya selalu terdengar di mana-mana.
Anak band yang cukup aktif berorganisasi, ia juga dikenal punya lingkar pertemanan yang luas dan tongkrongan yang cukup eksis di kalangan anak-anak sekolah. Dunianya juga tak pernah sepi. Banyak teman, kegiatan, tongkrongan, dan banyak hal lainnya yang membuat Samuel tak pernah benar-benar jauh dari keramaian. Barangkali, itu juga yang membuatnya begitu mudah menjadi pusat perhatian. Terutama... cewek-cewek di luar sana.
Dan sialnya, cowok yang diinginkan banyak orang itu pernah menjadi pacarmu. Dan itu semua, baru saja berakhir tepat dua minggu lalu.
Kamu masih ingat jelas bagaimana kata itu pertama kali terucap di antara kalian malam itu.
"Kita putus." Kalimat keramat yang entah sudah berapa kali keluar setiap kali kamu lelah menghadapi masalah dalam hubungan kalian.
"Oke." Jawaban Samuel datang sesederhana itu.
Tanpa perdebatan, tanpa bujukan, tanpa usaha untuk menahanmu seperti biasanya.
Dahimu langsung mengernyit. "Kok oke, sih?"
Samuel yang sedari tadi menatapmu akhirnya mengalihkan pandangan. Rahangnya mengeras, sebelum ia menjawab dengan nada datar.
"Mau putus, kan?" katanya. "Yaudah. Putus, itu kan mau kamu?"
Kamu terdiam. Seharusnya, saat itu juga kamu menarik kembali ucapanmu. Tapi rasa gengsi setinggi langit itu menahanmu. Alih-alih mengalah, kamu justru menatapnya tajam.
"OKE!"
Dan mungkin, saat itu kamu belum sadar bahwa untuk pertama kalinya, Samuel benar-benar membiarkanmu pergi.
Malam ini, kamu baru benar-benar menyadari semuanya. Tanganmu sibuk memijat pelipis, kepalamu menunduk dengan napas berat. Rasanya, ingin sekali memutar waktu dan menarik kembali ucapan yang dua minggu lalu keluar begitu saja dari mulutmu.
"Gue bego banget, sumpah..." Suaramu bergetar, air mata yang sejak tadi kamu tahan akhirnya jatuh juga. Dalam keadaan seperti ini, hanya satu nama yang terlintas di kepalamu.
Tarisha.
Kamu meraih ponsel, mencari namanya, lalu menekan tombol panggil. Begitu tersambung, rengekanmu langsung terdengar dari seberang.
"Sha..."
Tarisha bahkan tak perlu bertanya terlalu banyak. Dari nada suaramu saja, ia sudah tahu ke mana pembicaraan ini akan berakhir.
"Kenapa lagi?" tanyanya, terdengar setengah malas.
"Gue kangen Samuel..." rengekmu. "Gue pengen telepon dia, tapi malu..."
Hening sebentar, hanya terdengar helaan napas sesakmu yang berhembus di seberang.
"Dia kayaknya beneran fine aja, ya... tanpa gue?" lanjutmu dengan suara bergetar.
Tarisha menghembuskan napas panjang. Entah sudah berapa kali ia mendengar keluhan yang sama sejak kalian putus.
"Udah deh, mending lo tidur sana," katanya. "Ngapain nangisin mantan yang kayaknya udah nggak peduli sama lo?"
Ucapan Tarisha memang ada benarnya, tapi rasa rindu itu benar-benar tak bisa kamu bantah. Malam ini, kamu benar-benar ingin Samuel ada di sini. Sayangnya, yang bisa kamu lakukan hanya menatap ruang chat kalian setelah panggilan bersama Tarisha berakhir.
Pesan-pesan yang kamu kirim beberapa hari terakhir masih berjejer di sana. Pap makanan, cerita random, keluhan kecil, bahkan beberapa pesan yang sebenarnya tak punya alasan untuk dikirim. Mirisnya, semuanya berakhir sama, berakhir hanya centang biru—tanpa satu pun pesan yang dibalas oleh Samuel.
Kamu menggigit bibir, lalu kembali mengetik. Kali ini, bersamaan dengan sebuah foto wajahmu yang masih basah oleh air mata.
💬 You
(Pict)
I don't know how many days i've cried over you. I miss you so much... :(
Beberapa detik kemudian, centang abu-abu itu berubah menjadi biru. Kamu menggigit kuku, menunggu dengan harap-harap kecil. Mungkin Samuel akan membalas kali ini. Mungkin setidaknya akan muncul gelembung 'typing' di sana.
Creado 19 sept
Actualizado 19 sept
Publicado 19 sept