Dilema di Sudut Kantin
Suasana kantin universitas elit siang itu riuh oleh tawa anak-anak populer. Di sudut paling belakang—wilayah kekuasaan mutlak Jericho dan geng motornya—meja panjang dipenuhi kepulan asap rokok dan gelak tawa bebas aturan.
Sebagai mahasiswi yang dikenal cerdas, berprestasi, dan menjabat sebagai wakil ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), hari-harimu selalu dipenuhi tumpukan proposal dan rapat penting. Namun, hari ini kamu menyempatkan diri mendatangi kantin karena Victor, pacarmu sekaligus salah satu anggota inti geng Jericho, mengirim pesan agar kamu menemaninya istirahat sejenak.
Kamu tiba di sana dengan setelan kemeja rapi dan map transparan di tangan. Kehadiranmu langsung menarik perhatian seisi kantin. Tapi kamu sama sekali tidak peduli pada tatapan mereka, kecuali pada Victor yang sedang duduk santai di antara Mahesa, Sadewa, Angga, dan sang ketua geng yang paling ditakuti: Jericho.
Jericho duduk paling tengah dengan kaki dinaikkan ke atas kursi. Penampilannya selalu mencolok dan berantakan khas bad boy: kancing kemeja atas terbuka, jas almamater tersampir di bahu, dan wajah tampan dengan rahang tegas. Semua orang di kampus tahu siapa Jericho—berandalan nomor satu yang nilainya hancur lebur, hobi membuat onar, tidak pernah mau mendengarkan dosen, dan raja jalanan Jakarta setiap kali malam tiba. Di balik kekayaan luar biasa dan tubuh atletisnya, Jericho adalah bencana berjalan.
"Eh, cewek kesayangan Victor datang," sapa Sadewa dengan nada menggoda, disambut siulan kecil dari Mahesa dan Angga.
Victor langsung berdiri, menyambutmu dengan senyum manis dan rangkulan hangat di pinggang. "Udah selesai urusan BEM-nya, Wakil Ketua? Capek banget ya kelihatannya?" bisik Victor lembut, membuat siapa pun yang melihat pasti mengira dia adalah pacar yang sempurna.
Kamu tersenyum tipis, merasa nyaman dalam dekapannya karena kamu sama sekali tidak tahu kebusukan di balik senyum itu. "Sedikit sibuk tadi. Kalian lagi ngomongin apa sih? Ramai banget dari sana."
Victor terkekeh kecil, lalu melirik ke arah teman-temannya sambil menyeringai bangga, tanpa menyadari kalau ucapannya terdengar jelas olehmu—atau lebih tepatnya, ia mengira kamu tidak akan pernah curiga.
"Nggak ada apa-apa, yang. Cuma ngobrolin rencana nanti sore," kata Victor enteng, lalu menoleh ke arah Angga. "Oh ya, nanti sore abis jam kuliah selesai, gue mau nemenin si Cynthia jalan ke pim. Lumayan, gampang banget dibikin baper cewek manajemen itu. Pacar gue yang ini mah sibuk mulu jadi nggak bakal ngurusin gue."
Angga dan Mahesa tertawa pelan mendengar pengakuan itu. Bagi mereka, mempermainkan perempuan di belakang pacar sendiri adalah hal biasa yang tidak perlu disembunyikan di lingkaran pertemanan mereka.
Tapi di tengah tawa kecil itu, suasana meja mendadak membeku.
Jericho, yang sedari tadi hanya diam memainkan puntung rokok di jarinya sambil menatap kosong ke arah depan, tiba-tiba mendongak. Tatapan mata tajamnya langsung menghujam Victor dengan intensitas yang begitu dingin dan mematikan.
"Lo ngomong apa barusan, Vic?" suara berat Jericho memecah keheningan meja itu. Nadanya datar, tetapi mengandung tekanan berbahaya yang membuat Mahesa dan Sadewa sontak terdiam.
Victor berdeham, sedikit salah tingkah di bawah sorot mata sang ketua. "Santai, Jer. Cuma have fun doang. Namanya juga cowok, bosen kalau pacar gue sibuk terus ngurusin BEM."
Kamu yang berdiri di samping Victor mengernyit bingung, tidak paham dengan arah pembicaraan mereka. "Ada apa sih? Cynthia siapa?" tanyamu polos, menatap Victor bergantian dengan Jericho.
Sebelum Victor sempat menjawab, Jericho mendengus sinis. Ia membuang puntung rokoknya ke asbak dengan kasar hingga menimbulkan suara nyaring, lalu bangkit berdiri. Posturnya yang tinggi menjulang membuat bayangannya seolah menelan meja tersebut.
Jericho menatapmu lekat-lekat—ada kilatan amarah, rasa risih, sekaligus sorot mata yang sulit diartikan terpancar dari wajah tampannya, sebelum akhirnya pandangan itu beralih tajam ke arah Victor.
"Lo punya pacar wakil ketua BEM yang pintar, berdiri di sebelah lo, tapi lo malah bangga jadi cowok brengsek yang mainin cewek lain di belakangnya?" ucap Jericho dingin, penuh penekanan di setiap kata. Ia menyambar jaket kulitnya dari sandaran kursi. "Lo benar-benar nggak punya otak buat menghargai apa yang ada di depan mata."
Victor bangkit dengan wajah memerah, tersinggung di depan teman-temannya. "Jer, santai aja kali! Ini urusan pribadi gue!"
"Urusan pribadi lo bikin enek satu meja," balas Jericho tanpa memedulikan protes Victor.
Jericho melangkah pergi meninggalkan kantin begitu saja, meninggalkan keheningan canggung yang mencengkeram meja kalian, sementara kamu masih berdiri terpaku, mulai merasakan ada duri tajam yang menusuk hatimu atas apa yang baru saja terlontar.
Creado 30 ago
Actualizado 30 ago
Publicado 30 ago