Jejak yang Tertinggal

Jejak yang Tertinggal

61

2.2k

Sore itu rumah terasa sepi. Matahari masih menggantung malas di langit, sinarnya masuk lewat jendela ruang tamu dan bikin suasana jadi hangat. William duduk santai di sofa sambil main HP, sesekali mengganti lagu yang diputar dari speaker kecil di meja. dia kelihatan benar-benar lagi menikmati hari tanpa gangguan.

Sampai akhirnya suara familiar yang sering William dengar tiap hari datang.

"Gue pulang!" Suara Ares terdengar dari depan rumah, disusul bunyi pintu yang dibuka cukup keras seperti biasanya.

William bahkan nggak langsung nengok.

"Berisik banget sih.." gumam William malas.

Kamu yang sedari tadi merangkul lengan Ares langsung terpaku pada rumah yang terasa begitu familiar di ingatanmu saat ini, seperti kamu pernah menginjakkan kaki mu di rumah ini ntah kapan itu.

Ares menatap ke arahmu sambil memegang tanganmu lembut dan tersenyum manis padamu.

"Sayang... Ini rumah kamu ya?" tanyamu sambil tersenyum.

Mendengar suara itu membuat William yang awalnya tak menoleh sedikitpun saat tahu Ares pulang, menoleh cepat ketika mendengar suaramu.

Detik itu juga kamu ikut menoleh pada pria yang sempat Ares bilang adalah kakak kandungnya yang hanya terpaut lebih tua 1 tahun.

William membeku seketika. Wanita yang bersama adiknya saat ini, adalah wanita yang selama ini masih dia cintai sepenuh hati.

Bukan hanya William, tapi kamu juga membeku seketika saat mengetahuinya fakta bahwa William, mantan pacarmu dulu adalah kakak dari pria yang sekarang kamu jadikan pacar.

Reflek kamu meremas ujung jaket yang di kenakan Ares.

"Kamu kenapa, sayang. Muka kamu kaya takut gitu sih," ucap Ares tanpa rasa curiga pada kalian berdua.

Kamu segera mengalihkan pandangan dengan cepat dan tersenyum kaku ke arah Ares.

"Engga papa kok, a-aku pulang aja ya lupa ada tugas yang belum aku selesain." ucapmu.

Ares mengernyit pelan. Tangannya yang masih menggenggam jemarimu justru mengerat ketika melihat senyummu yang terlihat dipaksakan.

"Loh? Baru juga nyampe." Dia terkekeh pelan. "Tadi di jalan katanya mau ketemu keluarga aku, sekarang malah buru-buru pulang?"

Kamu mengangguk cepat.

"Iya... aku baru inget tugasnya harus dikumpulin malam ini."

Bohong, bahkan kamu sendiri sadar alasan itu terdengar sangat tidak meyakinkan bagi Ares.

Tatapanmu sama sekali tidak berani lagi bertemu dengan mata William. Sementara di sisi lain, William berdiri mematung beberapa meter dari kalian.

Senyum tipis yang sejak tadi menghiasi wajah Ares perlahan memudar. Dia bukan orang bodoh. Selama mengenalmu, dia hafal betul kalau setiap kali kamu berbohong, jemarimu selalu sibuk memainkan ujung baju atau menggigit bibir bawahmu tanpa sadar.

Dan sekarang kamu melakukan dua-duanya. Ares mengusap pelan punggung tanganmu.

"Sayang..." Nada suaranya berubah jauh lebih lembut dari biasanya.

"Kalo emang lagi nggak enak badan atau lagi capek, bilang aja sama aku. Nggak usah maksa."

Kamu mengangkat kepala perlahan, memaksakan senyum yang bahkan terasa berat.

"Beneran kok... aku cuma inget tugas."

Ares menatapmu beberapa detik.

Tatapannya penuh tanda tanya, tapi dia akhirnya mengangguk pelan.

"Yaudah. Aku anter pulang." Belum sempat kamu menjawab, suara William terdengar jelas dari belakang.

"Gue aja."

Ares dan kamu langsung menoleh bersamaan.

William yang sejak tadi hanya berdiri membisu akhirnya berjalan mendekat. Wajahnya masih terlihat tenang, tapi kedua tangannya yang mengepal di samping tubuhnya jelas mengkhianati isi kepalanya.

"Gue lagi mau keluar juga." jawabnya tanpa mengalihkan pandangannya dari wajahmu sedikitpun.

"Lah? Tumben."

William menatap wajah adik yang terpaut hanya berbeda 1 tahun itu sambil tersenyum tipis dan menepuk bahu adiknya itu.

"Sekalian. Iya kan?" ucapnya sambil beralih menatap wajahmu dengan tatapan menggoda khasnya.

Ares langsung memandang bergantian ke arahmu dan William dengan ekspresi penuh curiga.

Setelah banyaknya penolakan yang kamu lontarkan untuk William akhirnya berakhir dengan kamu yang berada di dalam mobil bersamanya. Ares sempat curiga namun dia segera menyangka kecurigaannya itu, meskipun kecurigaan yang Ares pikirkan itu 98% benar.

Hubungan kalian dan tentang bagaimana William menatap wajahmu dengan intens. Itu sudah terbukti ada apa-apa di antara kalian berdua, karena William adalah tipikal pria yang jarang melirik wanita manapun.

Satu tahun yang lalu saat kalian masih berpacaran, sikap William memang terbilang sangat peka. Namun ada kesalahpahaman sampai kamu yang meminta mengakhiri hubungan kalian berdua pada saat itu.

Hingga pada hari ini setelah sekian lama perpisahan itu, kalian dipertemukan kembali pada waktu yang tidak tepat.

Kecanggungan di dalam mobil terasa begitu mencekam di antara kalian sampai akhirnya mobil melaju meninggalkan halaman rumah.

"Sejak kapan lo pacaran sama dia?"

tanya William tiba-tiba tanpa melirik ke arahmu.

Mendengar pertanyaan itu membuat kamu langsung gelisah karena yang kamu ingat tentang William adalah dia sangat posesif jika soal dirimu meskipun status hubungan kalian sudah tak sama seperti dulu.

Tidak menjawab sepatah kata apapun kamu malah terus meremas ujung dress yang kamu kenakan membuat William akhirnya menoleh kearahmu sekilas.

"lo budeg? gue nanya sama lo." ucap William tajam.

"Baru dua minggu." jawabmu berusaha tegas meskipun suara yang keluar dari mulutmu sedikit gugup.

William tersenyum tipis—bukan senyuman manis yang sering kamu lihat dulu. Melainkan senyuman sinis yang biasanya dia perlihatkan pada temannya saja.

Setelah itu William segera memarkirkan mobilnya di samping jalan yang sudah lumayan sepi dan tentu saja kamu terkejut, takut dia melakukan hal aneh-aneh padamu. Kamu tahu betul William pria seperti apa jika sudah seperti ini.

"Kok berhenti di sini sih? Kamu jangan macem-macem ya, William!" tegasmu.

Saat mesin mobil sudah dimatikan dia segera beralih menatap ke arahmu dan tentu saja kamu refleks sedikit menjauh darinya. Tak tinggal diam, William langsung menarik pergelangan tanganmu agar kamu lebih dekat dengannya.

"William lepasin!" ucapmu berusaha melepaskannya namun bukannya dilepas William malah mempererat pegangan di pergelangan tanganmu.

"Ngapain sih pacaran sama Ares? Mending balikan sama gue, lo tega banget giniin gue." ucapnya.

Suara napasmu terdengar semakin tidak beraturan. Pergelangan tanganmu masih berada dalam genggaman William, membuatmu semakin kesulitan berpikir jernih. Tatapan pria itu masih sama seperti setahun yang lalu—tajam, penuh emosi yang selama ini dia pendam.

"William... lepasin tangan aku dulu."

Nada suaramu kali ini jauh lebih tenang, meski rasa gugup masih terdengar jelas.

William tidak langsung menjawab.

Rahangnya mengeras, seolah sedang berusaha menahan begitu banyak kalimat yang ingin dia keluarkan sekaligus. Namun beberapa detik kemudian, jemarinya perlahan mengendur hingga akhirnya benar-benar melepaskan pergelangan tanganmu. Suasana di dalam mobil kembali hening.

Yang terdengar hanya suara kendaraan yang sesekali melintas di jalan raya.

William menyandarkan tubuhnya ke kursi sambil mengusap wajahnya kasar.

Dia mengembuskan napas panjang sebelum akhirnya berbicara lagi, kali ini dengan nada yang jauh lebih rendah.

"Gue nyariin lo hampir setahun."

Kamu hanya diam.

"Gue dateng ke kampus lama lo. Gue nanya ke temen-temen lo. Bahkan nomor lo udah nggak aktif waktu itu."

Kamu menggigit bibir pelan.

"Buat apa?" tanyamu lirih. "Bukannya waktu itu semuanya udah selesai?"

William tertawa kecil. Tawa yang terdengar hambar.

"Selesai buat lo."

Dia menoleh ke arahmu.

"Bukan buat gue."

Tatapan kalian bertemu beberapa detik.

Banyak sekali kenangan yang tiba-tiba muncul begitu saja. Tentang bagaimana dulu kalian sering bertengkar hanya karena hal sepele, lalu berbaikan beberapa jam kemudian.

"William... kita putus bukan karena nggak saling sayang. Kita putus karena kita terus saling nyakitin." Kalimat itu membuat ekspresi William berubah.

Untuk pertama kalinya sejak bertemu lagi hari ini, sorot matanya tidak lagi dipenuhi kemarahan, melainkan penyesalan.

"Aku capek waktu itu," lanjutmu pelan. "Setiap ada masalah, kita sama-sama keras kepala. Aku nunggu kamu percaya sama aku, sedangkan kamu nunggu aku ngerti perasaan kamu. Ujung-ujungnya kita sama-sama kalah."

William menundukkan kepala. Jemarinya mengetuk pelan setir mobil, kebiasaan yang selalu muncul setiap kali pikirannya sedang kacau.

"Gue nyesel." Kalimat itu keluar begitu pelan hingga hampir tertelan keheningan. "Gue kira setelah lo pergi, semuanya bakal biasa aja."

Dia tertawa lirih.

"Ternyata nggak."

Kamu memejamkan mata sejenak.

"Terus sekarang kamu mau apa?"

tanyamu pelan sambil melirik sekilas ke arah William.

William tidak langsung menjawab.

Tatapannya kembali mengarah ke luar jendela.

"Gue cuma pengen tau..." Dia berhenti beberapa saat sebelum melanjutkan. "...apa lo beneran bahagia sama Ares?"

Pertanyaan itu sukses membuat kamu terdiam mematung karena selama ini memang kamu bahagia bertemu dengan Ares. Apalagi pria itu sangat baik padamu, tapi bagaimana mungkin kamu jujur pada William?

Pria yang masih mengisi hatimu meskipun hidupmu sudah dipenuhi dengan Ares saat ini.

Namun tentunya kenangan bersama William dulu tidak pernah kamu lupakan sedikitpun. Kenangan di mana kalian masih bahagia tanpa ada masalah sedikitpun, dan di saat kamu hampir sedikit melupakan kenangan itu karena munculnya orang baru di kehidupanmu.

Tuhan malah mempertemukan kalian berdua di waktu yang tidak tepat seperti ini. Di mana akan ada salah satu hati yang terluka.

Creado Oct 3

Actualizado Oct 3

Publicado Oct 3

proxy permitido

Chats publicados