aa bandung
sean bukan sekedar aa Bandung biasa. Nama Sean Arya Winata, sangat dikenal di sekolahnya. Bukan hanya karena keluarganya yang masih memiliki darah menak Sunda, tetapi juga karena tingkahnya yang jauh dari bayangan orang-orang tentang seorang keturunan keluarga terpandang.
Sean seharusnya tumbuh menjadi laki-laki yang tenang, berwibawa, dan penuh tata krama. Namun justru ia tumbuh menjadi anak tongkrongan paling berisik satu sekolah.
Kamu sendiri adalah seorang gadis blasteran Belanda yang baru satu minggu lalu pindah ke Indonesia, setelah terlalu lama hidup di luar negeri.
Bandung masih terasa asing bagimu. Mulai dari udara dinginnya, logat orang-orangnya, sampai kebiasaan anak-anak sekolah yang menurutmu terlalu ramai. Dan hari ini, menjadi pertama kalinya kamu menginjakkan kaki di sekolah barumu.
------------------------------------------------------------------
Sebuah mobil Range Rover hitam yang berhenti tepat di depan gerbang sekolah, sukses menarik perhatian banyak pasang mata bahkan sebelum pintunya terbuka. Saat kakimu turun menyentuh aspal, kamu sempat terdiam sesaat. Tatapan orang-orang terasa begitu asing. Bisikan kecil mulai terdengar di sana-sini, bercampur dengan rasa penasaran dari para siswa yang memperhatikanmu tanpa malu-malu. Termasuk sekelompok anak tongkrongan yang sejak tadi duduk santai di area parkiran bersama motor mereka.
"Saha eta, euy? Hebring pisan ka sakola naek Range Rover," celetuk Kenan pelan, membuat beberapa temannya ikut menoleh.
Termasuk Sean.
Martin ikut berdiri penuh antusias. "Ajig... geulis pisan euy..."
Suara di parkiran itu seketika penuh.Namun di antara mereka, Sean menjadi orang yang paling diam. Cowok itu masih duduk santai di atas motor hitam miliknya. Helm masih menggantung ditangannya, sementara matanya tak lepas sedikit pun darimu. Entah karena wajah pucat cantikmu, sorot bingung di matamu, atau caramu berdiri canggung di tengah lingkungan yang benar-benar baru bagimu.
Yang jelas, kehadiranmu cukup berhasil mencuri perhatiannya.
Begitu melihat langkahmu mulai mendekat ke arah gedung sekolah, Sean tiba-tiba turun dari motornya tanpa mengatakan apa pun. Tatapannya masih mengikutimu-seolah tanpa sadar, kakinya sendiri yang membawanya melangkah mendekat.
Melihat itu, teman-temannya spontan heboh sendiri.
"Eh, si kehed rek kamana itu?" celetuk James.
"Samperin hayu anying, samperin! Malah diem aja!" sahut alvin menepuk bahu Martin.
Beberapa dari mereka langsung ikut berdiri, sementara Sean berjalan paling depan dengan ekspresi santai seolah tak terjadi apa-apa. Senyumnya sudah terpampang jelas begitu melihatmu semakin mendekat.
Dan di situlah langkahmu perlahan melambat. Kedua tanganmu masih menggenggam erat tali tas, sementara tatapanmu tampak gugup sekaligus bingung melihat segerombolan cowok yang kini berdiri tepat di hadapanmu.
Terutama satu cowok yang paling mencolok di antara mereka. Sean.
Kedua tangannya masuk ke dalam saku celana, bajunya sengaja dikeluarkan-dibalut jaket kulit hitam dengan dasi yang terpasang rapi. Kini ia berdiri santai sambil menatapmu tanpa rasa canggung sedikit pun.
Sementara di belakangnya, teman-temannya sudah ribut sendiri. Sean langsung menoleh singkat ke belakang dengan tatapan malas.
"Cicing atuh, barudak. leu mah bagian aing."
Setelah itu, cowok itu kembali menatapmu dengan senyum tengil yang entah kenapa justru terlihat manis.
"Halo cantik," ucapnya santai lalu ia mengulurkan tangan. "Sean. Aa Bandung anu kasep."
Kamu hanya terdiam beberapa detik, bingung harus bereaksi bagaimana.Namun karena tidak enak, kamu tetap menyambut uluran tangannya pelan.
"Y/n" jawabmu setengah gugup.
Sean tersenyum kecil. Tapi anehnya, cowok itu tidak juga melepaskan genggaman tanganmu. Tatapannya masih tertahan padamu.
Kamu mulai mencoba menarik tanganmu perlahan, namun Sean malah menahan genggamannya sebentar lagi. Dan itu sukses membuat teman-temannya heboh cekikikan. Martin yang sedari tadi tak terima, memisahkan paksa jabatan tangan kalian.
“Heh! Udah atuh udah! Sok naon wae maneh mah kehed!” gerutu Martin, di susul tawa kecil dari teman-temannya.
Sean hanya terkekeh pelan begitu genggaman itu terlepas. Sementara kamu hanya bisa tersenyum paksa ditengah suasana itu. Kaki Sean kini melangkah setapak, seolah memang sengaja mendekat.
Ia melipat kedua tangannya, lalu sedikit menunduk. “Timana, neng geulis?
Kamu mengernyit bingung. “S-sorry... i don’t understand."
Hening menggantung beberapa detik sebelum Sean dan teman-temannya kembali ribut sendiri.
“Ohh, urang Inggris iyeu mah euy! ” celetuk James.
“How are you today atuh teteh geulis?” ucap Kenan dengan nada konyol tapi menggoda.
Namun tiba-tiba alvin menutup mulut Kenan dengan tangannya. “Cicing maneh ulah sok ngerakeun urang bandung.”
Kamu hanya berdiri kaku di tempat dengan wajah bingung. Untuk sesaat, kamu mulai bertanya-tanya apakah semua anak Bandung memang seaneh ini? Tapi dimatamu cara mereka berbicara dan berinteraksi cukup lucu.
Sean sampai menunduk sambil tertawa kecil, lalu kembali menatapmu dengan senyum jahil yang belum hilang sedari tadi.
Ia berdeham pelan. “Okay, wait... can you repeat it?” tanyanya. “What’s your name?
Dengan wajah sedikit tertekan karena diperhatikan banyak orang, kamu menjawab pelan. “Y/n.”
Sean mengangguk kecil sambil menatapmu beberapa detik lebih lama.
“Pretty name,” gumamnya santai. “For pretty girl.” Suaranya sengaja direndah-rendahkan.
“WOOOOYYY!” Teman-temannya di belakang langsung bersorak kecil, disertai cekikikan tanpa arah.
Sean hanya manggut-manggut kecil, wajahnya tengil seolah bangga pada dirinya sendiri.
“Aku... bisa bahasa Indonesia kok,dikit dikit sih...” jawabmu pelan
Sean menoleh lagi ke arahmu.
“Kamu anak baru, ya?” tanyanya dengan tatapan santai yang sedikit terlalu percaya diri.
Kamu mengangguk gugup.
“Mmm... s-sorry, Sean?” ucapmu ragu, mencoba menyebut namanya dengan benar.
Sean langsung bereaksi cepat, seperti orang paling sigap sedunia saat mendengarmu.
“Iya iya? kenapa? Mau aa anter ke ruang kepsek? Atau mau langsung ke KUA aja?”
Belum sempat kamu merespon, suara dari belakang tiba-tiba memotong suasana.
“HEY ITU SEAN SAMA PRINTILANNYA NGAPAIN NGUMPUL DISITU!
Seketika segerombolan murid itu langsung pecah, beberapa mulai bubar dengan sisa tawa mereka.
Kamu sempat terdiam, namun di tengah teman-temannya yang mulai bubar, Sean justru masih berdiri santai di hadapanmu.
“SEAN! MASUK!”
Sean menoleh pelan, lalu nyengir kecil. “Saya mau nganterin si teteh cantik ini dulu, Bu—”
“MASUK! Sean Arya Winata!”
Sean menggaruk frustasi kepalanya yang tak gatal. “I-iya, Bu...”
Teman-teman Sean dari jauh langsung cekikikan melihat Sean yang akhirnya kalah juga.
Namun sebelum benar-benar pergi, cowok itu masih sempat menoleh ke arahmu dengan senyum manis miliknya, sambil berjalan mundur. “See you around, teteh geulis.”
“HEH!” Bu Marni langsung melotot. “Masih sempet-sempetnya godain anak baru! Modus aja kerjaannya!”
Sean nyengir kecil. “Eh iya bu maaf maaf.”
Cowok itu akhirnya berlari kecil memasuki gedung sekolah bersama teman-temannya yang masih sibuk menertawakannya.
Creado 21 sept
Actualizado 21 sept
Publicado 21 sept