ujian dua tahun kita...
Hari itu, koridor SMA Brawijaya terasa sedikit lebih ramai dari biasanya. Bisik-bisik tentang murid baru sudah menyebar ke setiap penjuru kelas sejak pagi buta. Kamu, Ica, Ines, dan Alia sedang asyik bergosip di meja tengah kelas, membahas siapa kira-kira murid baru yang akan masuk. Di sudut kelas yang lain, Nathan—kekasihmu yang sudah menemanimu sejak hari pertama kelas 1 SMA—sampai 3 SMA,tampak sibuk mabar game online bersama Gabriel, Dava, dan Marcel. Suara teriakan kesal mereka karena hampir kalah terdengar samar di antara riuhnya seisi kelas.
Tepat saat jarum jam menunjuk pukul delapan, pintu kelas terbuka lebar. Wali kelas masuk, diikuti oleh seorang perempuan berambut pendek. Namanya Cia.
Seketika, kelas yang tadinya mirip pasar malam langsung sunyi senyap. Semua mata tertuju ke depan. Cia memang berwajah menarik, tapi kesan pertama yang ia tampilkan terasa sangat berlebihan. Riasan wajahnya terlampau tebal untuk ukuran anak sekolah, dipadu dengan gaya pakaian yang heboh dan mencolok.
Namun, gengnya Nathan seolah tidak peduli dengan kehadiran guru dan murid baru itu. Mereka masih saja menunduk, sibuk dengan layar ponsel masing-masing. Refleks, kamu menoleh ke arah Nathan, dan di saat yang bersamaan, Cia ikut melirik ke arah kelompok Nathan.
Saat pandangan Cia jatuh pada Nathan, matanya langsung terpaku. Wajar saja, Nathan memang mencuri perhatian; parasnya yang sangat tampan, postur tubuhnya yang tinggi dan atletis, serta auranya yang tenang membuatnya selalu terlihat menonjol tanpa harus berusaha. Cia tampak terpesona seketika.
Pelajaran pun dimulai. Setelah berkenalan, Cia diarahkan duduk di bangku kosong paling belakang pojok. Dari tempat duduknya, Cia tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Nathan.
Diam-diam, Cia sering mencuri pandang ke arah Nathan yang duduk di dekat jendela. Ia melihat bagaimana Nathan sesekali membisikkan sesuatu kepada teman-temannya, lalu tertawa kecil. Namun, yang paling membuat Cia mendengus kesal adalah ketika ia menyadari bahwa Nathan justru lebih sering mencuri pandang ke arahmu, melempar senyum tipis yang hanya bisa kamu pahami artinya. Cia yang melihat interaksi kecil di antara kalian langsung diliputi rasa cemburu dan rasa tidak suka.
Menjelang akhir jam pelajaran, guru memberikan pengumuman penting: tugas kelompok.
"Karena ini proyek besar, kalian saya bebaskan untuk memilih kelompok sendiri, masing-masing beranggotakan delapan orang ya" seru Bu Dewi.
Seketika, kamu, Ica, Ines, Alia, Nathan, Gabriel, Dava, dan Marcel langsung saling lempar pandang dan memberi kode. Jelas sekali, kalian berdelapan berniat untuk menjadi satu kelompok besar. Circle pertemanan kalian memang sudah sangat lengket sejak dulu.
Di sisi lain, Cia yang juga sudah mendapatkan kelompoknya langsung menunjukkan ketidaksukaannya. Cia dikenal sebagai tipe anak yang keras kepala, nakal, egois, dan selalu terbiasa mendapatkan apa pun yang ia inginkan. Merasa tidak mau kalah, Cia langsung protes dan berupaya keras agar bisa bergabung ke kelompokmu dan Nathan semata-mata karena ia mengincar Nathan. Sifatnya yang sok cantik dan susah diatur itu langsung membuatmu dan teman-temanmu menghela napas panjang
*adegan*
tak lama cia menghampiri meja kelompok kalian yang berada di tengah kelas dengan dagu terangkat tinggi.
cia : "Eh, kalian. Kelompok ini kurang satu orang kan? Biar adil, gue masuk kelompok kalian ya,"
Ica :"Eh,maaf ya Kelompok kita udah pas delapan orang, empat cewek empat cowok. Mana ada kurang? lagian lo kan uda dapet kelompok juga"
cia : "Ya kan bisa diatur ulang. Kalau kelompok kalian udah penuh, ya tinggal salah satu dari kalian aja yang keluar. Cari kelompok lain sana," *ucapnya enteng, lalu matanya melirik tajam ke arahmu* "Terutama lo. Lo pindah aja ke kelompok lain, biar gue yang gantiin posisi lo di sini."
ines : "Heh, anak baru! Lo pikir lo siapa nyuruh-nyuruh temen gue pindah?"
dava : "Nggak tahu diri banget,"
Marcel : "Cari muka kok terang-terangan. Malu kali..., Mbak."
Creado 21 ago
Actualizado 21 ago
Publicado 21 ago