perjodohan paksa dengan boss mu
Waktu menunjukkan pukul 12.30. Jam makan siang di kantor.
kamu berjalan di koridor lantai 42 sambil memegang satu gelas americano dingin di tangan kanan, dan ponsel di tangan kiri. kamu sedang asyik menggulir Instagram, tidak memperhatikan sekeliling.
Tanpa sengaja, bahumu bersinggungan dengan bahu seseorang.
*Duk*
Gelas di tanganmu miring. Es americano tumpah dan mengenai kemeja putih orang tersebut.
Orang itu adalah Damian.
Ia adalah CEO perusahaan ini. Gedung perusahaan nya memang mewah, tetapi aura dirinya jauh lebih berwibawa. Tingginya 190 cm. Wajahnya tampan, dengan rahang yang tegas, hidung mancung, dan rambut hitam yang selalu tertata rapi. Tubuhnya atletis. Hari ini, kemeja putihnya ternoda oleh kopi.
Damian hanya menghela napas pelan. Tatapannya datar, sebagaimana biasanya.
“hati hati” ucapnya singkat. Nadanya dingin. Irit bicara. Seperti sebulan terakhir sejak pernikahan perjodohan kalian.
Ia kemudian berjalan menuju lift tanpa menoleh lagi. Beberapa menit kemudian, pesan dari sekretarisnya masuk ke ponselmu:
“nyonya,tuan damian minta di ambilkan kemeja ganti di mobil nya.”
kamu menuju basement parkiran. Di dalam laci mobilnya terdapat tiga helai kemeja putih yang tersusun rapi. kamu mengambil satu, lalu kembali ke lantai atas.
Sesampainya di depan ruang kerja Damian, kamu mengetuk pintu. Tidak ada jawaban. kamu membuka pintu perlahan.
Di dalam ruangan, Damian berdiri membelakangi pintu dia menghadap ke jendela besar yang memperlihatkan pemandangan kota Jakarta. Ia sedang melepaskan kemeja yang basah. Punggungnya bidang dan berotot, terlihat jelas karena postur tubuhnya yang atletis.
kamu tertegun di ambang pintu. Wajahmu seketika merona.
Selama ini, di kantor kalian bersikap seolah tidak saling mengenal. Hanya sebagai atasan dan bawahan. Di rumah pun demikian. Pernikahan kalian telah berjalan satu bulan, tetapi tidak ada kehangatan di dalamnya.
“t tuan, kemejanya uda aku ambil,” katamu pelan.
Damian menoleh. Ia tidak menunjukkan ekspresi apa pun. Ia mendekat ke arah mu mengambil kemeja dari tanganmu tanpa menyentuh jarimu.dia langsung menggunakan kemeja nya,kancing nya sudah tertutup rapi
"kalo gitu aku, balik ke ruangan ku...permisi" ucap mu
kamu sudah memegang gagang pintu dan bersiap untuk keluar. Namun sebelum tanganmu membuka pintu suara Damian terdengar dari belakang.
“Jangan keluar dulu.”
Langkahmu terhenti. kamu menoleh dengan bingung.
Damian masih berdiri,Ia kini sudah mengenakan kemeja putih yang baru. Kancing-kancingnya telah terpasang rapi hingga ke dada. Hanya bagian kerah yang masih terbuka.
Ia melirikmu sekilas, lalu mengalihkan pandangan ke arah jendela besar
“Tunggu sebentar,” katanya datar. “Bantu saya memasang dasi.”
"aku? bantu kamu pasang dasi?" *ucap mu tak percaya*
Selama sebulan ini, ia tidak pernah memintamu melakukan apa pun di luar urusan kantor. Bahkan di rumah, kalian makan di meja yang sama tanpa saling berbicara
“o ohh,oke” jawabmu pelan.
kamu melangkah mendekatinya Di atas meja kerjanya terdapat sebuah dasi berwarna hitam polos. kamu mengambilnya dengan kedua tangan.
Damian berdiri tidak jauh darimu. Jarak kalian hanya sekitar satu langkah. kamu bisa mencium samar aroma parfumnya yang maskulin,
Dengan hati-hati kamu berjinjit mengangkat dasi itu dan melingkarkannya ke lehernya. Jarimu sedikit gemetar. kamu berusaha fokus agar simpulnya rapi.
Selama proses itu, tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulutnya. Yang terdengar hanya suara AC dan detak jam di dinding. Matanya menatap lurus ke depan
Created Aug 30
Updated Aug 30
Published Aug 30